Artikel ARKENAS

Arkeologi Klasik Hindu Buddha

Dibaca 450 kali article

“Melacca Strait Dream” merasuki Singapura

Monday 24, Jul 2017 10:49 AM / Atika

“Barang­siapa yang dapat menguasai Selat Melaka, dialah yang meme­gang kendali perda­gangan Venesia”.

Demikian sepenggal kalimat dalam sumber Portugis tahun 1536 mengenai pentingnya Selat Melaka bagi perdagangan internasional. Pernyataan inilah yang di­masa lampau menjadi impian berbagai bangsa untuk dapat menguasai selat yang penting ini.

Bermula dari kecemasan Singapura atas keamanan Selat Melaka dari bahaya perompak laut dan infiltrasi teroris. Kecemasan ini dapat dipahami karena telah banyak kejadian kapal yang melayari selat ini mendapat gangguan dari perompak lanun, dan bahkan yang terakhir sebuah kapal dan ABK-nya disandera kelompok Gerakan Aceh Merdeka. Karena itulah negara kecil ini berniat mengundang Amerika Serikat untuk ikutserta menjaga keamanan selat.

Selat Melaka dan Bandar di Sekitarnya

Membentang dari baratlaut ke tenggara sepanjang 778 km dan lebar 2-100 km, Selat Melaka adalah jalan utama yang menghubungkan antara Timur dan Barat. Sekitar 400 pelabuhan dan 700 buah kapal dari seluruh penjuru dunia pada saat ini bergantung kepada selat ini yang menjadi jalan utama sejak masa awal peradaban manusia di Nusantara.

Ramainya pelayaran dan perdagangan melalui selat ini melahirkan tempat-tempat persinggahan yang kemudian menjadi pelabuhan. Di daratan Semenanjung Tanah Melayu timbul pelabuhan Langkasuka, Kedah (Lembah Bujang), dan Melaka, sedangkan di Sumatera lahir pelabuhan Lamuri (Aceh), Pasai, Pidie, dan Kota Cina (Medan). Semua pelabuhan ini pernah berjaya pada sekitar abad ke-13-15 Masehi. Pasai kemudian menjadi pusat kerajaan, kemudian disusul Aceh setelah kejatuhan Melaka ke tangan Portugis.

Penguasaan Selat

Sejak awal tarikh Masehi, di kawasan sekitar Selat Melaka baik yang ada di pantai timur Sumatera maupun yang ada di pantai barat Semenanjung Tanah Melayu, telah hadir pedagang-pedagang dari berbagai penjuru dunia. Di antara pedagang itu yang kuat peranannya adalah pedagang Tamil. Prasasti-prasasti Tamil baik yang dite­mukan di Sumatera dan Semenanjung, maupun di Tañjore (India) meng­infor­masikan bahwa pada sekitar abad ke-11 Masehi telah ada organisasi pedagang Tamil, misalnya Ainnuarruvar "Yang kelima ratus dari seribu arah". Kumpulan para pedagang ini, mela­lui perserikatannya menarik bermacam pajak dari anggotanya untuk diberikan sebagai upeti kepada Raja Cola. Sebagai imbalan­nya, Raja Cola memberikan perlin­dungan kepada mereka dalam menjalankan aktivitas dagangnya di seluruh penjuru dunia.

Sebagai penguasa selat, Sriwijaya merasa berhak untuk menarik pajak dari para pedagang yang melalui Selat Melaka, tidak terkecuali para pedagang Tamil. Mungkin karena pajak yang ditarik terlampau tinggi, maka para pedagang ini yang merasa telah memberikan upeti kepada Cola melaporkannya kepada Raja Cola sebagai pelindungnya. Kesewenangan penguasa Sriwijaya menimbulkan kemarahan raja Cola, sehingga ia mengirimkan tentaranya untuk menyerbu Sriwijaya. Serangan terhadap Sriwijaya dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pada tahun 1017 dan tahun 1025 Masehi. Akibat serangan ini Sriwijaya menjadi lemah dan berbagai penguasa selat datang silih berganti.

Sriwijaya  telah lama runtuh, namun pelayaran dan perdagangan yang ber­lalu-lalang di Selat Melaka semakin ramai. Kemudian siapa yang “berhak” atas kuasa Selat Melaka pada sekitar abad ke-15 Masehi ? Pada sekitar abad ke-15, perdagangan di Asia Tenggara dikuasai oleh para pedagang Muslim. Sementara itu, para pedagang Eropa mulai menyebar ke seantero jagad untuk mencari tanah baru dan hasil bumi/tambang yang laku dijual di Eropa. Pada masa itu pusat perdagangan di Eropa yang penting adalah Venesia. Pedagang-pedagang dari Eropa ini juga melalui Selat Melaka.

Pada awal abad ke-15 Masehi, di suatu tempat di pantai barat Seme­nanjung Tanah Melayu, timbul sebuah permu­kiman nelayan yang kemudian berkembang menjadi sebuah bandar penting. Permu­kiman baru ini di kemudian hari dikenal dengan nama Melaka. Konon, menurut  Sejarah Melayu bandar ini dibangun oleh Parameswara, seorang bangsawan wong Palembang yang datang dari Bukit Siguntang.

Parameswara yang setelah memeluk Islam (1414) bernama Mergat Iskandar Syah dan penggantinya mengeluarkan kebijakan untuk membangun Melaka, antara lain:

  • Memberikan upeti kepada Siam yang pada waktu itu kedudukannya cukup kuat agar tidak menyerang Melaka, dan mengimport bahan makanan dari Siam.
  • Menjalin persahabatan dengan Kaisar Yung Lo (1403-1423) yang berkuasa di Cina, dan Cina mempunyai armada laut yang kuat.
  • Membuat perjanjian dengan kerajaan-kerajaan penghasil timah di sekitar Melaka agar dapat menjual timahnya melalui Melaka.
  • Memberantas para lanun yang biasa beroperasi di perairan Selat Melaka agar para pelaut/pedagang merasa aman.
  • Menciptakan Undang undang Melaka dimana di dalamnya juga tercantum ketentuan-ketentuan kelautan, antara lain tugas dan peranan nahkoda, tugas ABK, dan petunjuk keselamatan dalam kapal.

 Melaka dapat maju karena volume perdagangan dan lalulintas kapal  di Selat Melaka memang padat. Dengan demikian, siapa yang dapat menaklukan Melaka, dia akan dapat menguasai perdagangan internasional. Ketika Portugis menguasai Melaka (1511), negara ini banyak mendapat serangan dari kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, misalnya serangan dari Aceh dan Demak yang dipimpin oleh Pati Unus. Demikian juga kedatangan Belanda yang juga bermaksud menguasai Melaka.

Di samping Melaka, ada juga kerajaan-kerajaan kecil lain di Semenanjung yang juga ikut mengamankan Selat Melaka. Akan tetapi kekuatan mereka tidak seberapa besar, sehingga kegiatan perompakan di laut masih terjadi. Kejadian ini terus berlanjut sampai datangnya Inggris di Pulau Singapura dan Pulau Pinang. Meskipun Inggris tidak menguasai Melaka, namun ia menguasai dua pulau di “mulut” selat, yaitu Singapura dan Pinang. Kapal-kapal yang hendak melalui Selat Melaka, dipaksa untuk singgah di Singapura dan Pinang. Akibat tindakan Inggris ini, lama kelamaan Melaka menjadi sepi dan bangkrut. Peranannya diambil ali oleh Kerajaan Aceh di ujung baratlaut Sumatera.

Inggris dan juga Spanyol, pada masa itu mempunyai kekuatan laut yang besar. Logikanya, mereka tentu saja dapat mengamankan Selat Melaka dengan ke­kuatan lautnya. Namun yang terjadi tidak demikian. Gangguan perompak lanun masih saja terjadi dan ini terus berlangsung hingga sekarang. Kalau Inggris kuat, tentunya sejak dikuasai Inggris Selat Melaka sudah aman.

Selat dalam konteks kekinian

Dimulai dari kejatuhan Afghanistan yang dihembuskan sebagai sarang teroris, kemudian kejatuhan rezim Saddham Husain di Irak. Meskipun kedua negara tersebut telah jatuh ke Amerika Serikat dan sekutunya, namun biang keladi terorisme yang dikenal dengan nama Osama bin Laden dengan al-Qaeda nya hingga sekarang belum tertangkap. Beberapa kemungkinan di negara mana “buronan” ini berlindung dike­mukakan. Mungkin salah satu tempat yang layak untuk timbulnya terorisme adalah di negara kawasan sekitar Selat Melaka. Alasannya, di negara sekitar selat tersebut hukum dan penegakannya masih lemah.

Akibat dari pemikiran tersebut, Singapura merasa terancam karena Singapura adalah negara yang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Indonesia dan Malaysia hingga saat ini tidak ada hubungan diplomatik dengan Israel. Seperti telah diketahui, bahwa yang menjadi sasaran teroris adalah Israel dan negara-negara yang berhubungan dengan Israel. Dalam menyikapi ancaman ini strategi yang mungkin akan dila­kukan Singapura adalah mengundang kekuatan asing. Kalau perlu di Singapura di­bangun pangkalan militer.

Masalah keamanan Selat Melaka sangat merisaukan Singapura karena mulai dari Pulau Pisang di Tenggara hingga ke Baratlaut, sudah berada di daerah perairan Malaysia dan Indonesia bukan di perairan Singapura. Singapura merasa risau karena mereka menganggap para teroris yang hendak mengacaunya dapat saja melalui Selat Melaka. Akibat dari ketidak amanan Selat Melaka, dengan sendirinya kapal yang sing­gah di Singapura menjadi berkurang. Tentu saja akan berdampak pada perekonomian. Sementara itu Singapura tidak dapat bertindak apa-apa karena bukan di wilayah perairannya.

Kerisauan Singapura tidak mempunyai alasan yang kuat, bahkan lebih cen­derung melecehkan kekuatan laut Malaysia dan Indonesia. Kalau mau risau, mengapa Singapura tidak memikirkan keamanan perairan yang ada di sebelah timurnya, yaitu perairan Laut Cina Selatan. Dalam hal ini Singapura merasa perairan Selat Melaka  sebagian berada di wilayahnya dan sekaligus merasa kekuatan lautnya cukup memadai untuk mengawasi perairan itu. Kalau memang ada teroris yang hendak mengacau dan mengundang kekuatan asing untuk mengamankannya, dapat saja tindakan ini malah mengundang para teroris tersebut untuk mencoba mengacau.

Sejarah telah mengajarkan kepada kita, bahwa pemecahan masalah kea­manan di perairan selat harus dilakukan oleh kerajaan-kerajaan di sekitar selat itu. Tidak bisa kekuatan dari luar yang mengatasinya. Ini berarti, apabila Singapura mengundang kekuatan asing untuk mengamankan selat, maka ia sekaligus mengun­dang masalah yang akan jauh lebih besar daripada masalah keamanan selat itu sen­diri. Pemecahan masalah ala Singapura ini mungkin dapat disamakan dengan keha­dir­an Kerajaan Cola di Selat Melaka, di mana pihak pengundangnya adalah para peda­gang Tamil yang berga­bung dalam Ainnuarruvar "Yang kelima ratus dari seribu arah".

Dalam upaya pengamanan Selat Melaka, marilah kita melihat ke masa lampau bagaimana para penguasa mengelola selat itu, dan kita lihat alam budaya Melayu. Ada baiknya kita mengambil dan memanfaatkan Festival Budaya Melayu yang tahun lalu  mengambil tema “Revitalisasi Budaya Melayu”. Revitalisasi Budaya Melayu hendak menghidupkan kembali sesuatu yang pernah ada, tetapi sudah lama dilupakan masya­rakat. Upaya merevitalisasi budaya Melayu tidak lain memberi pemaknaan kembali atau mereposisi kebudayaan Melayu dalam konteks kekinian. Di sini saya melihat dalam konteksnya dengan pengamanan Selat Melaka di mana termasuk dalam lingkung budaya Melayu, berarti bahwa untuk menanggulangi keamanan selat seyogyanya dilakukan dengan pendekatan ala Melayu dan dilakukan juga oleh orang-orang Melayu.

Memang suku Melayu yang sebagian besar mendiami Riau Kepulauan, seolah-olah tercerai berai oleh laut dan selat. Otto Sumarwoto dalam tulisannya di KOMPAS menggaris bawahi bahwa laut bukan sebagai pemisah, tetapi pandanglah sebagai pemer­satu. Meskipun suku Melayu menempati pulau-pulau tetapi mereka masih saudara serumpun, apalagi bangsa Melayu dikatakan sebagai bangsa pelaut.

Festival Melayu yang setiap tahunnya diadakan di Riau mungkin dapat di­ja­dikan ajang mengikat tali persaudaraan di antara bangsa serumpun. Melalui diskusi yang intensif yang membahas berbagai persoalan di antara sesama bangsa serumpun, diharapkan dapat dipecahkan masalah keamanan Selat Melaka. Diskusi tidak hanya berakhir sampai akhir seminar, tetapi hendaknya sampai diimple­men­tasikan dalam bentuk aksi/tindakan yang positif. Perbaikan moral dan penegakan hukum perlu diutamakan. Kehadiran para birokrat di festival tersebut hendak­nya dapat dijadikan jembatan untuk menelurkan suatu kebijakan yang bermanfaat dan operasional. (BBU)


comments powered by Disqus

Baca Lainnya


Berita Arkenas

Publikasi Penelitian
Penelitian Lainnya research

Kerajaan Melayu Pindah ke DAS Batanghari, Dharmasraya, Sumatera Barat

Thursday 27 / Atika

Daerah hulu Batanghari dan Rambahan, tidak lepas dari latar belakang sejarah daerah tersebut yang dikaitkan dengan dua kerajaan besar di awal Masehi yaitu Melayu dan Sriwijaya. Kedua kerajaan saling mendominasi…

Baca Selengkapnya...


Kategori Terbitan

Aspek
device it's being served on. Flexible grids then size
1 Tulisan
Amerta
device it's being served on. Flexible grids then size.
20 Tulisan
BPA
device it's being served on. Flexible grids then size.
300 Tulisan
Kalpataru
device it's being served on. Flexible grids then size.
1325 Tulisan
Monografi
device it's being served on. Flexible grids then size.
2000 Tulisan