Artikel ARKENAS

Arkeologi Islam Kolonial

Dibaca 233 kali
  • article

    Tiyamah, bangunan bergaya arsitektur Belanda, tempat bermusyawarah dan berdiskusi soal keagamaan

  • article

    Makam keluarga sultan dengan nisan tipe Aceh

  • article

    Masjid Agung Kasultanan Banten 1882-1889

  • article

    Masjid Agung Banten masa kini

Masjid Agung Kesultanan Banten

Friday 24, Apr 2020 03:50 AM / Atika

Berdasarkan Sejarah Banten, masjid ini didirikan pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin. Bangunan induk masjid ini berdenah segi empat. Atapnya merupakan atap bersusun lima. Di kiri dan kanan bangunan ini terdapat masing-masing sebuah serambi. Di dalam serambi di sisi utara, terdapat makam-makam dari beberapa sultan Banten dan keluarganya, di antaranya makam Maulana Hasanuddin dan isterinya, Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah (Sultan Ageng Tirtayasa) dan Sultan Abu Nasr Abdul Qahhar (Sultan Haji). Di dalam serambi kanan, yang terletak di selatan, terdapat pula makam-makam; Sultan Maulana Muhammad, Sultan Zainul ‘Abidin dan lain-lain.

Arsitektur bangunannya unik karena memadukan ciri khas bangunan Jawa Hindu, Eropa, dan Cina. Hal ini karena masjid dirancang oleh tiga arsitektur berbeda yaitu arsitek bernama Raden Sepat yang juga membangun masjid Cirebon dan Demak, arsitek Cina asal Tiongkok bernama Tjek Ban Tjut yang diberi gelar pangeran Adiguna, serta arsitek Belanda yang melarikan diri dari Batavia bernama Hendrick Lucaz Cardeel menyumbangkan rancangan terpentingnya berupa Tiyamah, bangunan dua lantai berbentuk persegi panjang bergaya arsitektur Belanda sebagai tempat bermusyawarah dan berdiskusi soal-soal keagamaan, serta menara unik berbentuk segi delapan setinggi 23 m dengan 83 anak tangga.

Menara Masjid Agung Banten yang berada di depan masjid. Dirancang oleh Lucas Cardeel. Di dalam “Journaal van de Reyse” (De Eerste Schipvaart der Nederlanders naar Oost-Indie onder Cornelis de Houtman 1595—1597) terdapat sebuah peta Banten yang memperlihatkan adanya menara tersebut. Dalam Sajarah Banten juga disebutkan bahwa : ”Kanjeng Maulan Hasanuddin adarbe putra satunggal lanang jeneng putra mangke nuli de wastane Maulana Yusup ingkang puniko jeneng Yusup sampun gung ikang putra pan sampun adarbe rayi nalika iku waktu ning wangun munara........”  Berdasarkan atas pemberitaan tersebut, K.C. Crucq berpendapat bahwa menara Masjid Agung Banten sudah ada sebelum tahun 1569/1570, bahkan berdasarkan tinjauan seni bangunan dan hiasannya ia berkesimpulan bahwa menara tersebut didirikan antara tahun 1560—1570. (Sarjiyanto)

 

*Artikel ini merupakan materi pada kegiatan Sosialisasi Arkeologi Bagi Siswa di Situs Banten Lama yang dilaksanakan tahun 2017

Berita terkait: http://arkenas.kemdikbud.go.id/contents/read/news/0435jp_1492488783/sosialisasi-arkeologi-jelajah-arkeologi-mengenal-banten-lebih-dekat



Baca Lainnya


Berita Arkenas

Publikasi Penelitian
Penelitian Lainnya research

Mengulik Jejak Budaya Manusia Purba Kobatuwa di Cekungan Soa, Flores Timur

Friday 25 / Atika

LATAR PENELITIAN Penelitian di wilayah Cekungan Soa pertama kali dipelopori oleh , seorang missionaris berkebangsaan Belanda pada sekitar tahun 1960-an. Dalam laporannya ia menginformasikan bahwa di Situs Matamenge, Boa Lesa…

Baca Selengkapnya...


Kategori Terbitan

Aspek
device it's being served on. Flexible grids then size
1 Tulisan
Amerta
device it's being served on. Flexible grids then size.
20 Tulisan
BPA
device it's being served on. Flexible grids then size.
300 Tulisan
Kalpataru
device it's being served on. Flexible grids then size.
1325 Tulisan
Monografi
device it's being served on. Flexible grids then size.
2000 Tulisan