Artikel ARKENAS

Arkeologi Prasejarah

Dibaca 787 kali
  • article

  • article

  • article

Pantai Utara Bali: Lokasi Strategis Jjaringan Perdagangan Awal Di Kawasan Asia

Monday 15, Sep 2014 03:05 AM / Atika

Bagyo Prasetyo dan Ambra Calo

 

Penelitian arkeologi yang telah dilakukan di Pacung dan Sembiran, Bali  merupakan sebuah kerjasama antara Australian National University (ANU) dengan Pusat Arkeologi Nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang didanai melalui proyek Discovery Early Career Research Award (DECRA) melalui Australian Research Council (ARC).

Tim gabungan yang dimotori Dr. Ambra Calo dari Australian National University  dan Dr. Bagyo Prasetyo dari Pusat Arkeologi Nasional juga melibatkan sejumlah arkeolog dari Balai Arkeologi Denpasar, Universitas Udayana, serta beberapa peneliti asing yang menunjang kegiatan analisis. Selama dua tahun (2012-2013) mereka mencoba mengungkap misteri yang selama ini terpendam pada sebuah tanjung di utara Bali. Walhasil, upaya tersebut memberikan bukti yang meneguhkan dugaan bahwa pantai yang nyaman dan indah ini ternyata pernah menjadi bagian dari jaringan awal perdagangan kawasan Asia.  Secara kilas balik,  pada masa lampau Sembiran dan Pacung menjadi kawasan yang cukup ramai sebagai tempat persinggahan. Sejumlah kapal dagang dari berbagai wilayah baik mancanegara maupun daerah di sekitarnya ikut meramaikan tempat ini yang berfungsi sebagai bandar.

Ide penelitian ini bermula dari bukti-bukti arkeologis yang menunjukkan bahwa telah terjadi kontak pertama sekitar 2.100 tahun yang lalu antara pedagang India dengan masyarakat yang ada di wilayah Asia Tenggara.  Selama milenium berikutnya, kontak ini menyebabkan munculnya peradaban yang dipengaruhi oleh sistem kepercayaan India yaitu agama Hindu dan Budha. Bersama-sama dengan tradisi budaya India dan Asia Tenggara, kepercayaan ini menyebar tanpa jalan kekerasan melalui jaringan perdagangan. Nampaknya hubungan perdagangan antar kawasan Asia tersebut terlihat bukti-buktinya di Sembiran dan Pacung, sehingga penelitian arkeologi secara intensif dan sistematis perlu dilakukan dalam upaya mengungkap kembali perilaku masyarakat yang pernah ada dan menghuni di sini.

Sembiran dan Pacung merupakan dua desa saling berdekatan yang terletak di kawasan pantai utara Bali, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali. Untuk mencapai dua desa tersebut cukup mudah karena terletak di tepi jalan raya yang menghubungkan antara Kota Singaraja dengan Amlapura. Jarak tempuh dari Denpasar sekitar 110 km yang dapat dicapai sekitar 3 jam dengan kendaraan pribadi. Namun akan lebih lama waktunya kalau menggunakan kendaraan umum karena harus transit di Singaraja untuk ganti dengan angkutan lain menuju ke Tejakula.

Pemilihan lokasi Sembiran dan Pacung cukup beralasan mengingat sebanyak 20 lempengan inskripsi dari perunggu berumur antra 922-1181 Masehi pernah ditemukan di tempat ini. Inskripsi tersebut kemudian pada tahun 1965 disimpan di dua desa yaitu Julah dan Sembiran, dengan pembagian masing-masing 10 buah. Julah yang sekarang merupakan desa yang terletak sekitar satu kilometer di sebelah timur Sembiran. Berdasarkan pembacaan terhadap inskripsi tersebut terungkap fakta kehidupan yang pernah berlangsung di Julah.  Sebagai contoh, inskripsi Sembiran A I berangka tahun 922 Masehi menyebutkan adanya pasar dan petugas pasar di Julah, selain juga aturan-aturan berkenaan dengan buang sauh dan muatannya. Disebutkan pula bahwa orang-orang Julah tinggal di dalam benteng (kuta), untuk mengatasi serangan musuh supaya mereka bisa secepatnya melarikan diri ke desa lain (Ardika 2008). Ketetapan adanya persekutuan dagang (banigrama) yang tinggal di dalam benteng juga disebutkan pada  inskripsi Sembiran A II bertanggal 975 Masehi. Istilah banigrama seringkali disebutkan dalam inskripsi-inskripsi yang ditemukan di Jawa Timur, terutama di daerah pelabuhan. Pada inskripsi Jawa sekitar abad 10, istilah banigrama berhubungan dengan pedagang asing dari Campa, Kmer, Mon, Sinhala, Bengali, Kalinga, Podikira, Karnataka, Dravida dan Arya (Wisseman 1977). Pada inskripsi lain yaitu Sembiran C bertanggal 1181 Masehi, tercantum adanya regulasi tentang barang muatan kapal. Petugas yang disebut dengan samgat badwa haji dan kabayan gosti mempunyai wewenang untuk memeriksa kargo kapal (Ardika 1991). Dengan demikian, disimpulkan bahwa Julah dan daerah sekitarnya pernah terlibat dalam perdagangan maritim pada awal abad 10-12 M. Secara geografis, Sembiran dan Pacung merupakan bagian dari Julah kuna seperti yang disebutkan dalam inskripsi tersebut. Oleh karena itu didukung oleh data inskripsi yang ada, kedua lokasi tersebut secara arkeologis akan dibuktikan sebagai pelabuhan kuna setidaknya menjelang abad pertama masehi.

Penelitian yang pernah dilakukan oleh  Wayan Ardika tahun 1987-1989 dan 1990-2008 di Sembiran dan Pacung menghasilkan sejumlah besar tembikar India dan cetakan perunggu produk lokal yang diperkirakan sebagai situs pelabuhan pada sekitar abad pertama Masehi yang mempunyai kontak dengan India dan pusat pencetakan logam di daratan Asia Tenggara (Ardika et.al 1993). Penentuan umur tersebut tidak didasarkan pada pertanggalan karbon tetapi mengacu pada kronologi tembikar India. Pertanggalan dengan umur 993-429 cal. SM (CAM 723) dari temper sekam padi hasil penggalian kotak Sembiran VII (1989) nampaknya terlalu tua untuk membuktikan adanya kontak dengan India, walaupun berdasarkan hasil analisis X-Ray dan Neutron terhadap sampel yang sama tidak mengenyampingkan adanya asal-usul India awal (Ardika dan Bellwood 1991). Kotak gali Pacung tahun 2000 menghasilkan pertanggalan AMS dengan umur 201 cal. SM-21 M (Beta-161920) dari gigi manusia yang diduga dari India (Lansing et.al 2004). Dua pertanggalan AMS dari kubur di Pacung (VI) dan IV (2004) memberikan pertanggalan dengan kalibrasi sekitar (cal) 104 SM-64 M (Swastika 2008). Bagaimanapun pertanggalan tersebut tidak berhubungan dengan kontak India.

 

Menggali Untuk Mencari Bukti

Untuk menjawab permasalahan yang muncul terkait dengan aktivitas pelabuhan kuna di Sembiran dan Pacung, tim membuka sejumlah kotak ekskavasi. Tahun 2012, kotak berukuran 4 x 4 meter (SBN XIX) di buka di Sembiran, yang berlokasi sekitar 1,5 meter sebelah utara kotak gali Ardika tahun 1989 (SBN VII). Kotak gali Ardika ini menghasilkan pusat konsentrasi tembikar India dan cetakan perunggu produk lokal. Selain itu dibuka juga kotak berukuran 5x6 meter (PCN IX) di Pacung yang merupakan ekstensi dari dua kotak ekskavasi berukuran 2x2 meter yang pernah dilakukan pada tahun 2004-2005 (PCN IV dan VI). Kotak terakhir ini memberikan hasil temuan berupa kubur delapan individu manusia (rangka V-XII). Ekaksavasi tahun 2013 di Sembiran dilakukan sebanyak sebuah kotak uji (test-pit 1) dan tiga kotak gali (SBN XX, XXI, dan XXII) yang terletak 140 meter dari garis pantai. Temuan kedua kotak di antaranya menghasilkan deretan dinding batu yang diisi dengan pecahan tembikar yang dilepa dengan bahan dari koral.

Bukti-bukti arkeologi hasil ekskavasi di Sembiran dan Pacung hasil kolaborasi Pusat Arkeologi Nasional dan Australian National University telah membantu dalam mengisi kekosongan bukti-bukti jaringan perdagangan dengan Bali, Melalui studi analisis komparatif terhadap temuan artefak berbahan kaca, perunggu, emas dan kornelian, dan melalui revisi terhadap waktu kontak dengan India sekitar awal-awal abad SM didasarkan pada tembikar rouletted dari India untuk disebandingkan dengan bukti pertanggalan dengan tembikar roulleted dari tempat lain di kawasan kepulauan Nusantara.

 

Kontak Awal Dengan India dan Daratan Asia Tenggara

Terjadinya kontak awal dengan India di daerah ini terlihat pada konsentrasi temuan tembikar India pada lapisan kubur di Pacung. Tembikar tersebut meliputi cawan halus tipe Wheeler 1 berwarna abu-abu dengan hiasan roullete serta bentuk bibir melipat kedalam, cawan-cawan kasar tipe 3, serta tembikar tipe 10 dan 18, yang seringkali ditemukan pada situs pelabuhan Arikamedu di pantai tenggara India (Wheeler et.al. 1946).

Kubur yang ditemukan di Pacung dibekali dengan manik-manik kaca dan artefak perunggu yang berasal dari Vietnam. Hubungannya dengan Vietnam telah berlangsung pada akhir abad 2-1 SM yang ditunjukkan oleh adanya pengaruh dinasti Han (Cina), ditunjang pula dengan bukti-bukti adanya tembikar dengan teknik tatap dan tekan jala gaya Han yang ada di Sembiran, sama seperti yang ditemukan pada tembikar dengan pembakaran rendah gaya Han dari Vietnam Utara dan Selatan (Sophie Peronnet pers. Comm). Tembikar Sembiran gaya Han ditemukan berasosiasi dengan tipe lain kemungkinan berasal dari daratan Asia meliputi tembikar gores sisir dan hias cap V, tembikar halus India, serta fragmen kendi tipe Indonesia Timur seperti yang ditemukan di Leang Buidane (Talaud) (Bellwood 1980).

 

Ketertarikan para pedagang India ke Sembiran dan Pacung dimulai pada maraknya perdagangan rempah-rempah Maluku. Mereka mencapai Bali dari daratan India Selatan seperti dari Arikamedu yang menghasilkan tembikar roulleted pre-Roman. Secara umum, kubur-kubur yang ada di Pacung dan Sembiran menghasilkan konsentrasi fragmen tembikar halus produksi dari India Utara, produk tembikar kasar dari India Selatan yang merupakan tiruan dari bagian utara, serta cawan-cawan tiruan dari India produk Bali. Cawan-cawan yang ditemukan di Pacung digunakan sebagai tutup tempayan kubur yang cocok dengan gaya cawan yang diketahui tersebar di India Selatan dan Sri Langka pada paruh kedua abad pertama Sebelum Maehi. Kemungkinan pula bahwa tembikar itu merupakan produk lokal Bali yang merupakan tiruan dari India. Produksi lokal tembikar gaya India di Asia Tenggara juga diketahui terdapat di Situs Khao Sam Kaeo.

Selain sejumlah fragmen tembikar di kedua situs tersebut, ditemukan pula manik-manik kaca dan gelang perunggu dalam konteks dengan penguburan. Hasil analisis komposisi data manik-manik kaca dan gelang perunggu menunjukkan erat kaitannya dengan Vietnam, atau setidaknya dari suatu tempat di daratan Asia Tenggara, India atau Romawi. Artefak berbahan kaca di daratan Asia Tenggara awalnya dtemukan di Khao Sam Kaeo dan Ban Don Ta Pet di Thailand (Glover dan Bellina 2011), Dong-Son (Vietnam Utara), Sa Huynh dan Dong Nai (Vietnam tengah dan selatan) (Lankton dan Dussubieux 2012).

 

Bukti tentang produk lokal pencetakan perunggu juga ditemukan di Sembiran, berupa cetakan dari bahan batuan tufa volkanik. Sebuah untuk cetakan nekara perunggu Pejeng yang ditemukan pada tahun 1989, dan sebuah lagi untuk cetakan kapak perunggu dengan tipe corong.  Cetakan pertama dihias dengan motif geometris seperti tipe Pejeng yang ditemukan pada kotak SBN VII yang berasosiasi dengan tembikar roulleted India (Ardika dan Bellwood 1991). Cetakan kedua hasil ekskavasi kotak SBN XIX lapisan 8 yang merupakan cetakan dari kapak perunggu tipe Soejono Vb.

Pada masa akhir prasejarah, emas tidak dikenal di Kawasan Asia Tenggara. Bukti-bukti awal kehadiran emas diketahui melalui kontak jaringan perdagangan Kawasan Asia, terutama dengan India (Bennet 2009). Penelitian Sembiran dan Pacung menemukan  13 buah manik-manik dan ornamen dalam berbagai macam bentuk. Tampaknya artefak emas ini tidak ada kaitannya dengan kontak prasejarah di Asia Tenggara. Sampel Hasil analisis komposisi terhadap sampel tidak menunjukkan kesamaan dengan artefak emas yang ada di situs Kamboja dan Vietnam. Ada kecenderungan dari beberapa sampel menampilkan ciri-ciri cincin Prohear yang berhias motif horseman, yang bukan merupakan produk Asia Tenggara didasarkan pada komposisinya (Reinecke et.al. 2009). Secara gaya, cincin Prohear dikatagorikan pada tingkat Saka-Parthia (abad pertama Masehi) di situs Sirkap, wilayah Taxila, Pakistan (Marshall 1975). Tembikar Sembiran dengan goresan berkarakter tulisan Kharoshthi (Ardika dan Bellwood 1991) yang ditemukan di Sembiran tahun 1989 mempunyai hubungan dengan India Utara terutama wilayah Taxila. Tulisan Kharoshthi berasal dari Aramaik dari Kekaisaran Achaemenid Persia (abad 6-5 Sebelum Masehi) dan merupakan tipe dari cincin emas dan perunggu budaya Saka-Parthia di Sirkap (Marshall 1975).

 

Penutup

Bukti-bukti temuan arkeologi dari Sembiran dan Pacung mengindikasikan adanya jalinan hubungan dengan beberapa wilayah di India maupun daratan Asia Tenggara yang dimulai dari akhir abad pertama Sebelum Masehi. Penguburan di Pacung yang dipertanggalkan sebelumnya dari akhir abad kedua Sebelum Masehi nampaknya sudah ada setidaknya pada abad pertama Sebelum Masehi yang didasarkan dari tembikar halus India pada lapisan kubur serta dilengkapi dengan bukti-bukti pertanggalan awal perunggu dan kaca di wilayah pulau-pulau di Asia Tenggara. Data baru hasil kimiawi kaca menunjukkan erat hubungannya dengan Vietnam, serta bukti kuat adanya penyebaran objek perunggu dan teknologi pencetakannya ke Indonesia dari pusat produksi perunggu di bagian timurlaut daratan Asia Tenggara. Demikian pula dengan temuan emas dan manik-manik kornelian dari Sembiran dan Pacung diindikasikan mempunyai hubungan dengan daratan India bagian utara melalui daratan Asia Tenggara bagian barat.  

 

Acuan

Ardika, I. Wayan, 1991. “ Archaeological Research in Northeastern Bali Indonesia,” Disertasi University of Sydney, Department of Archaeology.

Ardika, I. Wayan dan Peter Bellwood, 1991. “Sembiran the beginnings of Indian contact with Bali,” Antiquity 65:221-32.

Ardika, I. Wayan, Peter Bellwood, R.A. Eggelton, D.J. Ellis, 1993. “A Single source for South Asian Export-quality Roulleted Ware,” Man and Environment 18.1:101-9

Ardika, I. Wayan. 2008. “Archaeological Traces of the Harbour Town,” dalam Burial, Texts and Ritual,” Ethnoarchaeological Investigations in North Bali, Indonesia, edited Brigitta Hauser-Schaublin dan I Wayan Ardika. LIT-Verslag: 149-155.

Bellwood, P, 1980. “The Buidane Culture of the Talaud Islands, Northeastern Indonesia,” BIPPA 2: 69-127.

Bennet,  A.T.N. 2009. “ Gold in early Southeast Asia.”  Archeo Sciences 33: 99-107.

Bouvet,  P, 2011. “Preliminary Study of Indian and Indian Style Wares from Khao Sam Kaeo (Chumpon, Peninsular Thailand),” Fourth-Second Centuries BCE. In Manguin P-Y., Mani, A. and G. Wade (eds.), Early Interactions between South and Southeast Asia: 47-81. Singapore: ISEAS.

Calo, Ambra, 2014, “The Archaeology of the North Coast of Bali: a Strategic Crossroads in Early Trans-Asiatic Exchange”. Report of Archaeological Research in Bali, Indonesia. Laporan penelitian untuk Kementerian Riset dan Teknologi.

Glover,  I.C. dan B. Bellina, 2011. “Ban Don Ta Phet and Khao Sam Kaeo: the Earliest Indian Contacts Re-assessed,” In Manguin P.-Y., Mani, A. and G. Wade (eds.), Early Interactions between South and Southeast Asia: 17-45. Singapore: ISEAS.

Lankton, J.W. dan L. Dussubieux, 2012. “Early Glass in Southeast Asia,” In Janssens, K. (ed.), Modern Methods for Analysing Archaeological and Historic Glass: 413-39. New York: Wiley and Sons.

Reinecke, A.,  VIN, L.dan  S. SENG 2009. The First Golden Age of Cambodia: Excavations at Prohear. Bonn: German Foreign Office, Phnom Penh.

Wheeler, R.E.M, A. Ghosh, K. Deva, 1946. “An Indo-Roman Trading Station on the East Coast of India,” Ancient India 2: 17-124.

Wisseman, J. 1977. “Markets and trade in pre-Majapahit Java,” In. K.L. Huggerer (ed.), Economic exchange and social interaction in Southeast Asia: Perspectives from prehistory, history, and ethnography (13th ed., pp. 197-212). Ann Arbor, MI: Center for South and Southeast Asian Studies, University of Michigan.


comments powered by Disqus

Baca Lainnya


Berita Arkenas

Publikasi Penelitian
Penelitian Lainnya research

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI LINGKUNGAN SITUS ARKEOLOGI

Thursday 20 / Atika

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI LINGKUNGAN SITUS ARKEOLOGI Oleh : Bambang Sulistyanto Pusat  Arkeologi Nasional   Abstrak Upaya pengelolaan  warisan budaya di situs arkeologi pada masa sekarang, harus memperhatikan makna sosial (social…

Baca Selengkapnya...


Kategori Terbitan

Aspek
device it's being served on. Flexible grids then size
1 Tulisan
Amerta
device it's being served on. Flexible grids then size.
20 Tulisan
BPA
device it's being served on. Flexible grids then size.
300 Tulisan
Kalpataru
device it's being served on. Flexible grids then size.
1325 Tulisan
Monografi
device it's being served on. Flexible grids then size.
2000 Tulisan