Artikel ARKENAS

Arkeologi Islam Kolonial

Dibaca 1293 kali
  • article

  • article

    Nisan tanpa inskripsi

  • article

    Nisan berinskripsi

Jejak Islam di Pulau Nusa Penida

Thursday 23, Mar 2017 09:01 AM / Atika

Islam di Pulau Nusa Penida tidak dapat dilepaskan dari masuk dan berkembangnya Islam di Bali dan Nusa Tenggara, karena wilayah itu merupakan bagian dari ekspedisi Sunan Prapen, anak Sunan Giri yang berkuasa pada abad ke-16.  Kedatangan Sunan Prapen tentu membawa perubahan pola pikir dan bahkan ideologis di wilayah yang dilaluinya, sebut saja misalnya masyarakat Bali, Lombok, bahkan Sumbawa yang sempat mendapat pengaruh Majapahit lambat laun menerima Islam sebagai agama baru di sebagian wilayah tersebut.

Masyarakat Nusa Penida percaya bahwa Islam masuk ke wilayah itu jauh di masa lalu tetapi mereka tidak mengetahui secara pasti, kapan dan dari mana Islam itu masuk ke wilayah Nusa Penida. Mereka hanya mempercayai bahwa Islam masuk di Nusa Penida di Kampung Toyapakeh. Masyarakat Toyapakeh yang diwakili oleh takmir Masjid Al-Imran, H. Syahran (54 tahun) menyebutkan bahwa orang-orang Islam pada awalnya tersebar di Pulau Nusa Penida kemudian pada tahun 1936, mereka disatukan di Desa Toyapakeh agar tidak tercerai berai.  

Nama Toyapakeh diambil dari bahasa Bali, yaitu toya berarti air, dan pakeh artinya asin. Jadi Toyapakeh berarti air asin atau air yang rasanya asin. Dinamakan Toyapakeh karena air di desa itu rasanya asin. Sekalipun air di Nusa Penida mempunyai rasa asin, namun di Toyapakeh rasanya lebih asin dari tempat lain. Sekarang Desa Toyapakeh menjadi tempat pemukiman masyarakat di Nusapenida. Desa Toyapakeh terletak di pantai barat Pulau Nusa Penida, di Selat Badung yang membelah Pulau Bali dengan Pulau Nusa Penida. Pantainya yang dahulu diduga menjadi tempat pendaratan pendatang muslim ke pulau itu menghadap arah barat atau menghadap ke arah Pulau Nusa Lembongan yang kini menjadi bagian dari wilayah administratif Kecamatan Pulau Nusapenida.

Penduduk Desa Toyapakeh mayoritas beragama Islam yang mencapai 99 persen dari semua penduduk di desa itu. Mereka percaya bahwa Islam masuk di Nusapenida pada tahun 1925 dibawa oleh orang dari Jawa bernama R. Musthafa dan R. Jumat. R. Mustafa wafat di Desa Toyapakeh dan dimakamkan di pemakaman Muslim Kuna di desa itu. Makamnya dicungkup berukuran 3.9 x 4.95 m dengan tinggi tembok berukuran 2.35 m. makam itu ditandai dengan jirat dan nisan.

Benarkah Islam masuk Nusa Penida di awal abad ke-20? Data arkeologi ternyata berbeda sama sekali dengan yang disangkakan penduduk selama ini.  Di sebelah tenggara Desa Toyapakeh terdapat kompleks pemakaman muslim yang sama sekali tidak terawat. Di sinilah dimakamkan tokoh muslim kharismatik yang dipercaya oleh masyarakat setempat datang dari Jawa bernama Raden Mustafa.  Di sekitar makam Raden Mustafa terdapat banyak jirat dan nisan makam yang tidak terawat. Pada umumnya nisan makam yang tidak terawat ini memiliki bentuk dan tipologi Demak- Troloyo yang diduga sangat tua., yang  dikenali melalui tipologi dan morfologi jirat dan nisan makam itu. Pada jirat dan nisan makam di kompleks pemakaman itu sama sekali tidak dijumpai tulisan.  Dengan begitu maka tidak diketahui pertanggalan absolut jirat dan nisan itu. Namun demikian, paling tidak nisan-nisan makam itu mempunyai tipologi dan morfologi yang dapat menunjukkan pertanggalan relatif yang berasal dari abad ke-16-17 M.  Temuan nisan bertipe Demak-troloyo di Toyapakeh mau tidak mau membawa dugaan bahwa para pendatang Islam yang datang ke Nusa Penida memiliki hubungan dengan muslim yang telah terlebih dahulu ada di Jawa.

Di luar cungkup makam Raden Mustafa, tepatnya di emperan timur ditemukan dua buah nisan makam yang tidak berjirat. Nisan makam itu dibuat dari batu gamping, berbentuk pipih yang dibentuk dengan dua buah setengah lingkaran, di tengahnya terdapat kuncup bunga. Nisan dihiasi dengan sulur-suluran membentuk kala dalam stiliran inskripsi Arab yang dapat dibaca “bismillah ar-rahman ar-rahim” dan angka tahun dengan tulisan Arab “1211” H atau 1797 M.  Dengan ditemukannya angka tahun pada nisan makam ini ditemukan petunjuk yang sangat jelas bahwa Islam telah berkembang di Nusa Penida pada tahun sebelum angka tahun itu. Meskipun  tahun itu tersebut belum dapat menjawab secara pasti tentang datangnya Islam ke Nusa Penida, setidaknya pada akhir abad ke-18 Islam sudah hadir di Nusa Penida.

Kronologi absolut berupa angka tahun yang terdapat pada makam di ruang utama cungkup, apabila dibandingkan dengan kronologi relatif yang didapat dari morfologi dan tipologi nisan-nisan makam di luar cungkup, terdapat perbedaan yang signifikan. Nisan-nisan makam berinskripsi menunjukkan ragam hias yang raya sedangkan nisan-nisan makam tak berinskripsi tidak berhias. Bahan kedua macam nisan pun berbeda, nisan makam berinskripsi berbahan gamping, sedangkan nisan-nisan makam yang tak berinskripsi bahannya batu tufa.  Bahan gamping tersedia berlimpah di Nusa Penida, sementara bahan batu tufa tidak ditemukan di Nusa Penida. Artinya bahan nisan-nisan makam yang tidak berinskripsi didapat dari luar pulau itu.  Diduga bahan itu berasal dari Bali, khususnya Klungkung yang menyediakan bahan batu lebih banyak dari tempat lain. Nisan-nisan makam yang tidak berinskripsi jumlahnya lebih dari dua puluh. Oleh karena itu diduga bahwa nisan-nisan makam itu lebih tua dibandingkan dengan nisan makam yang berinskripsi. Sebelum masyarakat Nusa Penida mengetahui bahwa di lingkungannya bahan pembuatan nisan berupa batu gamping secara berlimpah, untuk masa selanjutnya mereka membuat nisan makam dengan menggunakan bahan itu. Hal itu dapat dilihat dari nisan-nisan baru yang terdapat di kompleks makam yang baru. Di kompleks pemakaman yang baru itu nisan-nisan makam dibuat dari bahan batu gamping. Dengan demikian tampaknya masuknya Islam di Nusa Penida jauh lebih tua dari pada yang disangka selama ini.  Islam sudah datang ke wilayah ini pada paling tidak sekitar abad ke-16/ 17 M (Nisan- nisan tidak berinskripsi) dan terus eksis pada periode-periode berikutnya. (Mujib Ali)


comments powered by Disqus

Baca Lainnya


Berita Arkenas

Publikasi Penelitian
Penelitian Lainnya research

Mengulik Jejak Budaya Manusia Purba Kobatuwa di Cekungan Soa, Flores Timur

Friday 25 / Atika

LATAR PENELITIAN Penelitian di wilayah Cekungan Soa pertama kali dipelopori oleh , seorang missionaris berkebangsaan Belanda pada sekitar tahun 1960-an. Dalam laporannya ia menginformasikan bahwa di Situs Matamenge, Boa Lesa…

Baca Selengkapnya...


Kategori Terbitan

Aspek
device it's being served on. Flexible grids then size
1 Tulisan
Amerta
device it's being served on. Flexible grids then size.
20 Tulisan
BPA
device it's being served on. Flexible grids then size.
300 Tulisan
Kalpataru
device it's being served on. Flexible grids then size.
1325 Tulisan
Monografi
device it's being served on. Flexible grids then size.
2000 Tulisan