Artikel ARKENAS

Arkeologi Klasik Hindu Buddha

Dibaca 527 kali article

Kehidupan Beragama di Sriwijaya

Friday 26, Feb 2016 05:10 AM / Atika

Sriwijaya dikenal sebagai kerajaan bahari, tetapi dikenal juga sebagai salah satu pusat penyebaran agama Buddha dan pengajaran bahasa Sansekerta. Karena itulah Sriwijaya banyak dikunjungi oleh para bhiksu dari mancanegara. Namun, akibat dari hubungan­nya dengan kerajaan lain, tidak mustahil di Sriwijaya juga ada kelompok masyarakat yang beragama lain (Hindu, Tantris, dan bahkan Islam).

Sriwijaya bukan saja menjadi pusat kekuasaan yang besar, melainkan menjadi pusat kebudayaan, peradaban, dan pusat ilmu pengetahuan agama Buddha. Para bhiksu yang melawat ke Sriwijaya mempunyai tempat yang khusus. Mereka sangat dihormati oleh para penguasa dan rakyat Sriwijaya. Bhiksu yang datang ke Sriwijaya bukan hanya untuk sekadar singgah untuk beberapa saat, melainkan mereka tinggal untuk waktu yang lama dan mempelajari agama Buddha.

Dalam agama Buddha terdapat bermacam-macam mazhab, antara lain Mahayana dan Hinayana. Sumber tertulis dan arca-arca yang ditemukan mengindika­sikan bahwa agama Buddha yang berkembang di Sriwijaya bermazhab Mahayana. Akan tetapi, para bhiksu Buddha yang mempelajari agama Buddha di Sriwijaya bukan saja mem­pelajari agama Buddha Mahayana saja, melainkan agama Buddha dari mazhab lain.

Pusat pengajaran agama Buddha yang terbesar pada masa itu adalah Nalanda. Namun, beberapa sumber Tiongkok juga menyebutkan bahwa di Sriwijaya juga terdapat suatu perguruan tinggi Buddha yang cukup baik. Mengenai perguruan tinggi Buddha di Sriwijaya, I-tsing memberitakan tentang kehidupan keagamaan di Sriwijaya dan banyaknya bhiksu di kota.

Dikenalnya Sriwijaya sebagai pusat agama Buddha tidak lain adalah peranan dari Dharmakrti, seorang bhiksu Buddha yang pengetahuannya cukup luas. Ia adalah salah seorang bhiksu tertinggi di Sriwijaya yang menyusun kritik atas isi kitab Abhisamayalamkara. Demikian dikenalnya hingga pada tahun 1011 hingga 1023 Masehi, seorang bhiksu dari Tibet yang bernama Atisa (Dipamkararsjñana) datang ke Swarnna­dwipa untuk belajar agama pada Dharmakrti.

Aktivitas keagamaan pada masyarakat di wilayah Kadatuan Sriwijaya bukan hanya agama Buddha Mahayana saja, agama lain juga berkesempatan untuk berkem­bang. Bukti-bukti arkeologis berupa arca batu yang mewakili agama Hindu dan Tantris, juga ditemukan di wilayah Kadatuan Sriwijaya. Sebuah berita Arab menyebutkan adanya surat menyurat antara Maharaja Sriwijaya dan Khalifah Umar bin Abdul Azis. Dalam surat itu disebutkan permintaan kepada Khalifah untukmengirimkan mubaligh ke Sriwijaya.

(BBU)


comments powered by Disqus

Baca Lainnya


Berita Arkenas

Publikasi Penelitian
Penelitian Lainnya research

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI LINGKUNGAN SITUS ARKEOLOGI

Thursday 20 / Atika

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI LINGKUNGAN SITUS ARKEOLOGI Oleh : Bambang Sulistyanto Pusat  Arkeologi Nasional   Abstrak Upaya pengelolaan  warisan budaya di situs arkeologi pada masa sekarang, harus memperhatikan makna sosial (social…

Baca Selengkapnya...


Kategori Terbitan

Aspek
device it's being served on. Flexible grids then size
1 Tulisan
Amerta
device it's being served on. Flexible grids then size.
20 Tulisan
BPA
device it's being served on. Flexible grids then size.
300 Tulisan
Kalpataru
device it's being served on. Flexible grids then size.
1325 Tulisan
Monografi
device it's being served on. Flexible grids then size.
2000 Tulisan