Artikel ARKENAS

Arkeologi Klasik Hindu Buddha

Dibaca 657 kali
  • article

  • article

  • article

  • article

  • article

Kawasan Pendukung Kota Sriwijaya di Pedalaman

Tuesday 22, Mar 2016 10:09 AM / Atika

Jauh sebelum timbulnya peradaban yang ditandai dengan adanya insti­tusi yang berbentuk Kadatuan di Palem­bang, di daerah pedalaman hulu sungai-sungai yang ber­muara di Palembang telah ada kelompok-kelom­pok masyarakat. Kelompok-kelompok ma­syarakat ini ting­gal di datar­an tinggi, di lereng dan kaki pegunungan, di tepi-tepi sungai, dan di ceruk atau gua-gua. Tinggalan budaya dari kelompok masyarakat ini be­rupa alat-alat batu, tembikar, bilik-bilik batu, dan menhir. Seluruh­nya dapat ditemukan di daerah lereng dan kaki Pegunungan Bukit Barisan di hulu sungai Musi dan anak-anaknya. Di antara sisa hunian manusia tertua di daerah hulu Musi ditemukan di wilayah Kabupaten Lahat, yaitu di Situs Bungamas, Lubuk Layang, dan Sungai Saling.

Di Si­tus Bungamas, seki­tar 20 km. menuju arah barat­laut La­hat, di tepian Sungai Kikim ditemu­kan alat-alat batu paleo­litik dan alat-alat batu dari fosil kayu. Lebih ke hulu ditemukan beng­kel pembuatan alat-alat neo­litik dan hunian yang lebih tua lagi dari masa paleolitik.

Beberapa tinggalan bu­­da­ya yang ditemukan di Situs Bunga­mas, Lubuk Layang, dan Sungai Saling me­nunjukkan bahwa jauh sebelum adanya peradaban, di dae­rah hulu sungai Musi terda­pat hunian manusia yang ber­asal masa yang tua, sekitar 8.000 tahun yang lalu. Manusia pada masa itu “tinggal” di daerah-daerah tepian sungai kecil dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan. Mereka hidup da­lam komuni­tas kecil dan be­lum menetap di suatu tempat.

Di daerah hulu Musi, di lereng dan kaki Pegu­nungan Bukit Barisan tidak hanya ditemukan sisa hunian paleolit dan neolit saja, di dataran tinggi Pasemah diper­oleh petunjuk tinggalan bu­daya masa lampau yang sudah jauh berkembang pada tingkat yang lebih kom­pleks. Di daerah Pagaralam ditemukan tinggalan buda­­ya masa lam­pau yang berupa arca-arca batu yang berbentuk manu­sia dan bina­tang. Menurut kepercayaan masyarakat setem­pat, seba­gian besar arca megalit di Pasemah adalah hasil perbuatan si Pahit Lidah kepa­da orang atau binatang yang disum­pahnya menjadi batu. Selu­ruh arca-arca ter­sebut dapat dite­mu­kan di situs-situs yang ada di daerah Lahat, Karang­indah, Tinggihari, Tanjung­siri, Pagaralam, Pa­dang, Tebat­si­ben­tur, Tanjung­menang, Batugajah, sam­pai ke Air­putih dan Tegurwangi.

Masih di dataran tinggi Pasemah, di daerah Pagaralam dite­mu­kan bilik-bilik batu yang pada salah satu din­dingnya ter­dapat lukisan. Salah satu bentuk lukisannya menggambarkan sese­orang sedang menggamit ker­bau dengan warna merah bata, hitam, dan kuning oker. Lukisan ini mirip dengan gaya arca-arca batu yang ditemukan di permu­kaan tanah. Lukisan-lukisan pada dinding batu tersebut, nampak­nya menggambarkan aneka ben­tuk yang dinamis dengan memilih obyek lukisan manusia, binatang dan bu­rung yang memakai kom­binasi warna merah, ku­ning, putih, dan hitam yang disamar­kan sedemikian rupa sehing­­ga menjadi menarik.

Sebuah kompleks megalit ditemukan di Situs Tinggihari berupa batu-batu menhir. Batu-batu menhir ini diberi bentuk yang menggambarkan manusia dan bina­tang, didirikan sepan­jang jalan yang mendaki ke puncak bukit yang tingginya antara +700—1.000 meter d.p.l. Tanah pegu­nungan ini mempunyai kontur yang bervariasi di mana di bagian tengahnya dipotong oleh Sungai Lematang yang pa­da akhirnya bermuara di Sungai Musi. Situs ini terletak mu­lai dari tepi jalan yang menghubung­kan Pulau Pinang dan Tinggi­hari, sekitar 4 km. dari tepi jalan raya yang meng­­hubungkan Lahat dan Pagar­alam. Pada saat ini telah dibuat jalan setapak yang menuju puncak bukit sehingga kita dapat mengunjungi masing-masing arca megalit. Dari tem­pat ini ditemukan arca-arca megalit yang seluruhnya berjumlah 9 buah.

Seluruh tinggalan budaya dari masa prasejarah tersebut mem­berikan infor­masi kepada kita bahwa pada masa lampau, di daerah hulu Musi sudah terdapat hu­ni­an manusia. Hunian awal ini mengambil lokasi di daerah tepian-tepian sungai pada bidang tanah yang tinggi. Hunian yang sedikit lebih maju ditemukan di daerah kaki Gunung Dempo di sekitar kota Pagaralam sekarang. Dari tempat ini banyak ditemu­kan arca-arca megalit dan bilik-bilik batu yang berhiaskan lukisan dari bahan oker.(Bambang Budi Utomo)


comments powered by Disqus

Baca Lainnya


Berita Arkenas

Publikasi Penelitian
Penelitian Lainnya research

Penelitian Karakteristik Budaya Maritim Masa Islam Di Pantai Lamreh, Aceh Besar, Aceh, Tahun 2018

Thursday 02 / Atika

Tim penelitian dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) meneliti situs-situs arkeologi pantai di Lamreh, berlangsung dari 8 sampai dengan 23 Juli 2018. Lokasi penelitian termasuk wilayah Desa Lamreh, Kecamatan…

Baca Selengkapnya...


Kategori Terbitan

Aspek
device it's being served on. Flexible grids then size
1 Tulisan
Amerta
device it's being served on. Flexible grids then size.
20 Tulisan
BPA
device it's being served on. Flexible grids then size.
300 Tulisan
Kalpataru
device it's being served on. Flexible grids then size.
1325 Tulisan
Monografi
device it's being served on. Flexible grids then size.
2000 Tulisan