Artikel ARKENAS

Arkeologi Publik

Dibaca 2319 kali article

Mitos Balung Buto: Tafsir Makna dan Relevansinya Terhadap Benda Cagar Budaya Sangiran

Monday 01, Sep 2014 02:46 AM / Atika

MITOS BALUNG BUTO: TAFSIR MAKNA DAN RELEVANSINYA TERHADAP

BENDA CAGAR BUDAYA SANGIRAN

 

Bambang Sulistyanto

Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

 

 

 

 

I. Kerangka Pemikiran

Mitos adalah cerita tentang peristiwa awal mula dan transformasi yang mengandung kualitas sakral yang penyampaiannya dalam bentuk simbolis (Cohan, 1969: 337-357). Peristiwa-peristiwa di dalam mitos dianggap  benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh yang empunya cerita. Sifat dan hakikat mitos memang non teoritis, bahkan mitos menolak kategori-kategori dasar dalam pemikiran kita. Logika mitos, kalau pun ada logika di situ tidak dapat disesuaikan dengan konsepsi kita mengenai kebenaran empiris atau pun kebenaran ilmiah (Cassirer, 1987:111). Tetapi jika kita kaji  secara mendalam, mitos bukan sekedar cerita dongeng pelipur lara yang tanpa makna. Dibalik ceritanya yang kadang sangat aneh, tersembunyi pesan dari masyarakat pendukung mitos. Kecenderungan mitos yang seringkali dipergunakan sebagai sarana pembenaran, tentu saja mengandung makna yang berkaitan dengan realitas masyarakat  pencipta mitos.  Oleh karena itu,  mitos merupakan fakta sosial  yang harus diperlakukan sebagai  bagian kebudayaan manusia  yang penting untuk diteliti guna membantu membongkar kebudayaan masyarakat pendukung mitos.

Keutamaan mitos sebagai sumber keyakinan masyarakat yang bersahaja dikemukakan oleh Malinowski ( 1954:101).

Mitos bukan sekedar penjelasan dalam suatu kepuasan minat ilmiah, tetapi suatu kisah kebangkitan kenyataan yang paling awal yang diceritakan untuk memenuhi tuntutan-tuntutan  religius yang terdalam,hasrat-hasrat dan dorongan moral, kepatuhan – kepatuhan social, pernyataan-pernyataan yang bernilai positif dan bahkan kebutuhan praktis. Dalam masyarakat yang bersahaja mitos mempunyai fungsi hakiki yakni menggambarkan, memperkuat, dan mengintensifkan serta mencatat  keyakinan-keyakinan. Mitos  mengayomi dan memberikan kekuatan moralitas bagi kehidupan manusia. Ia menyediakan berbagai hal bagi adanya upacara dan mengisi tata aturan praktis bagi bimbingan kehidupan manusia. Demikianlah mitos, merupakan suatu unsur yang amat penting dalam peradaban manusia.  Ia bukanlah cerita yang tanpa arti, tetapi suatu kekuatan akif yang hidup. Ia bukan pula suatu penjelasan  akaliah atau suatu khayalan artistik, tetapi suatu kesepakatan pragmatis keyakinan dan kebijakan moral masyarakat yang bersangkutan

 

Seperti halnya mimpi menurut pandangan Freud, mitos pada dasarnya adalah ekspresi atau perwujudan dari unconscious wishes, keinginan-keinginan yang tak disadari, yang sedikit banyak tidak konsisten, tidak sesuai, tidak klop, dengan kenyataan sehari-hari  Namun demikian dalam perspektif teori komunikasi, cerita mitos sarat akan pesan. Walaupun si pengirim pesan di situ tidak jelas, tetapi dapat diasumsikan, bahwa pengirimnya adalah para nenek moyang dan penerimanya  adalah generasi sekarang. Atas dasar pandangan inilah menyebabkan orang sampai sekarang masih selalu berusaha mencari dan menggali pesan-pesan yang dianggap ada di balik berbagai mitos di dunia (Putra:2001:XXXII  ).

Di kawasan Nusantara ini banyak sekali tersebar mitos, baik mitos kosmogoni, mitos asal-usul, atau mitos  tentang dewa-dewa serta mitos androgini. Mitos-mitos itu belum semua dapat terekam dan terdokumentasi secara profesional sehingga belum semua pula dapat dikaji makna maupun peranannya di dalam kehidupan masyarakat sekarang. Mitos Balung Buto merupakan salah satu dari sekian banyak mitos yang belum diteliti karena mitos ini nyaris tidak terdengar sehingga  lepas dari perhatian kita. Bahkan mitos ini dikalangan masyarakat pendukungnya yaitu masyarakat Sangiran Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, hanya didengar oleh orang-tua orang-tua saja. Mitos Balung Buto nyaris terlepas dari khasanah perbendaharaan mitologi Jawa.

Tulisan ini akan mengkaji makna mitos Balung Buto dalam konteks upaya kognitif masyarakat Sangiran zaman dahulu dalam menyelesaikan atau memindahkan konflik batin mereka yang tidak mampu mereka pecahkan. Konflik batin yang dimaksud adalah ketidak mampuan mereka menerangkan mengapa banyak sekali tersebar fosil hewan dan fosil manusia purba di padang belantara situs purbakala Sangiran, Sragen Jawa Tengah. Kecenderungan mitos yang dibaliknya tersembunyi makna simbolis, maka untuk memahaminya tentu saja diperlukan pengetahuan kebudayaan, atau etnografi yang menyeluruh terhadap masyarakat yang melahirkan mitos itu sendiri (Putra, 2001). Jadi dalam proses interpretasi yang terjadi adalah gerak dialektis dari data kebudayaan ke mitos dan dari mitos ke kebudayaan.

Dampak atas kajian tersebut, sudah pasti pentingnya mendiskripsikan kondisi sosial budaya masyarakat pendukung mitos masa lampau, dalam konteks ini adalah kepercayaan masyarakat Sangiran masa lalu dalam memaknai fosil. Dengan demikian kajian dalam tulisan ini akan dilihat dari perspektif antropologi religi.

 

 

II. Mitos Balung Buto

Penduduk Sangiran pada masa lampau belum mengenal istilah fosil. Istilah fosil, baru dikenal sekitar tahun 1930-an, setelah daerah Sangiran kedatangan para peneliti bangsa asing yang secara intensif mulai melakukan penelitian. Sebelum tahun tersebut penduduk menyebut fosil-fosil itu dengan istilah yang khas, yaitu balung buto. Balung adalah bahasa Jawa yang berarti tulang dan buto adalah raksasa. Dengan demikian, secara harafiah, balung buto mempunyai arti tulang raksasa. Nama balung buto tidak hanya dikenal sebagai tulang raksasa, tetapi tercermin pula dalam bentuk mitos. Penduduk di kawasan Situs Sangiran, khususnya para orang-tua yang berusia di atas 60 tahun masih mengenal secara jelas mitos asal usul balung buto.

Berabad-abad lamanya penduduk Sangiran percaya kepada mitos yang mengisahkan perang besar yang pernah terjadi di kawasan perbukitan Sangiran. Dalam pertempuran tersebut banyak raksasa yang gugur dan terkubur di bukit. Oleh karena itu, fosil-fosil yang memiliki ukuran besar yang banyak bermunculan di lereng-lereng perbukitan Sangiran dinamakan balung buto atau tulang raksasa. Di samping itu, beberapa peristiwa yang terjadi di dalam kisah mitos ini juga terabadikan dalam bentuk nama-nama desa di kawasan Sangiran yang oleh sebagian masyarakat, khususnya para orang tua masih dipercaya kebenarannya. Secara singkat kisah Balung Buto adalah sebagai berikut:

Alkisah pada zaman dahulu kala[1], ketika daerah Sangiran masih berupa hutan lebat dan berbukit-bukit, hiduplah sekelompok masyarakat penuh dengan keda-maian. Meskipun kondisi tanah di daerah itu tidak subur, tetapi penduduknya tidak pernah kekurangan makanan, karena mereka rajin bercocok-tanam dan berternak. Suatu ketika, ketenteraman mereka tiba-tiba berubah menjadi kekacauan ka-rena datangnya bala tentara raksasa. Rombongan raksasa itu merusak berbagai jenis tana-man, memangsa hewan bahkan memakan manusia terutama anak-anak. Penduduk Sangiran ketakutan dan berlarian menuju ke sebuah desa di balik bukit untuk minta bantuan kepada seorang ksatria yang gagah perkasa bernama Raden Bandung.

Sebagai ksatria, Raden Bandung menyanggupi akan mengusir para raksasa dari bumi Sangiran secara baik-baik, tetapi para raksasa itu tidak mau meninggalkan  Sangiran, bahkan minta agar setiap hari dipersembahkan seorang anak manusia sebagai makanan raja raksasa. Raden Bandung marah dan terjadilah peperangan antara anak buah Raden Bandung dengan pasukan raksasa. Peperangan itu dimenangkan oleh tentara raksasa dan Raden Bandung sendiri hampir saja meninggal oleh kesaktian raja raksasa bernama Tegapati.

Kekalahan perang melawan raja raksasa, menjadikan Raden Bandung mela-rikan diri dan bersembunyi di tengah hutan. Dalam pengasingan, Raden Bandung mendapat wangsit dari dewa yang menasihati agar dia  bertapa[2] di hutan selama sewindu. Genap dalam waktu yang telah ditentukan dewa, datanglah wisik yang me-ngatakan agar Bandung menenggelamkan diri di sebuah telaga (Jw = kedung)[3] yang banyak pohon beringinnya. Wisik dari dewa itu dijalaninya, di dalam air telaga itu Bandung bertemu dengan Dewa Ruci yang memberikan banyak wejangan atau ajaran tentang berbagai hakekat hidup dan cara mengalahkan kejahatan yang dilakukan oleh para raksasa. Pada akhir nasihatnya, Dewa Ruci mengatakan, "Sangirlah[4] (asahlah) kukumu yang panjang  di batu itu, sebagai senjata yang akan mengalahkan para raksasa".

Setelah senjata kuku ditajamkam, Raden Bandung muncul dari air telaga dan bersama pasukannya mencari Tegapati, raja raksasa yang dulu pernah menga-lahkannya. Alangkah terkejutnya, ketika ia melihat kenyataan yang sudah berubah. Tegopati telah mendirikan kerajaan di Glagahombo[5] dengan para pengikut dan bala tentara raksasa yang semakin bertambah banyak. Tidak jauh dari kerajaan itu dibangun pula sebuah gapura yang megah sebagai pintu masuk menuju kerajaan, sekaligus berfungsi sebagai tempat penjagaan.[6] Singkat cerita, Raden Bandung bersama pasukannya menyerbu kerajaan Glagahombo. Pasukan raksasa banyak yang melarikan diri tersebar ke mana-mana, tetapi dapat dikejar dan semua terbunuh, termasuk raja raksasa Tegopati sendiri yang meninggal oleh senjata kuku Raden Bandung. Kematian raja raksasa itu sangat menggenaskan, isi perutnya terburai ke luar, bangkainya dilemparkan jauh sampai jatuh terjengkang (Jw Jepapang) di suatu tempat yang sekarang dinamai Dusun Bapang, masuk dalam wilayah Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe. Sebagian lagi pasukan raksasa meninggal karena tenggelam oleh bendungan dan sungai yang dibuat oleh pasukan Raden Bandung. Sebagian lagi meninggal karena terkubur bukit. Oleh karena banyak raksasa yang meninggal, darahnya berceceran hingga menggenangi suatu tempat yang saat ini bernama Desa Saren (Jw = darah).[7] Pada akhir cerita, Raden Bandung memerintahkan kepada semua rakyatnya untuk tidak mengganggu tulang-belulang para raksasa itu.  Bangkai raksasa yang tersebar di berbagai tempat di Sangiran itu akhirnya oleh penduduk dinamakan balung buto (tulang raksasa).

 

III. Penafsiran Makna Mitos

A. Kepercayaan Terhadap Balung buto[8]

Penduduk Sangiran sebelum tahun 1930 memiliki kepercayaan, bahwa balung buto dapat menyembuhkan berbagai penyakit, seperti penyakit perut, demam atau penyakit karena gigitan hewan berbisa. Di samping itu, balung buto khususnya yang berupa gigi, dapat pula dipergunakan untuk jimat penolak bala. Kepercayaan lain yang berkaitan dengan kepercayaan magis terhadap balung buto adalah keampuhannya untuk melindungi diri atau sebagai jimat kekebalan tubuh.

 

1. Balung buto Sebagai Obat Penyembuhan Penyakit.

Bagi masyarakat Sangiran sebelum tahun 1930-an balung buto tidak hanya dipercaya sebagai sisa jasad raksasa yang gugur di medan perang melawan Raden Bandung, melainkan sebagai tulang raksasa yang dipercaya memiliki kekuatan magis yang dapat menyembuhkan beberapa penyakit. Daya magis dari balung buto dikaitkan dengan kekuatan fisik para raksasa khususnya kesaktian raja raksasa Tegopati yang menurut mitos tidak terkalahkan oleh Raden Bandung jika ksatria itu tidak memperoleh bantuan dewa. Oleh karena itu, balung buto yang banyak bermunculan di berbagai tempat di lereng-lereng perbukitan Sangiran, pada kurun waktu sebelum tahun 1930 jarang terganggu oleh penduduk setempat. Berbagai jenis dan bentuk balung buto dibiarkan berserakan yang pada gilirannya akan terpendam tanah kembali oleh erosi bukit yang berada di atasnya. Persepsi magis itulah yang menyebabkan balung buto terselamatkan oleh kondisi alam Sangiran sendiri, kecuali jika ada warga yang sakit, balung buto baru dicari, tetapi hanya sebatas pada kepentingannya. mBah Wiryo informan yang kini berusia 80 tahun menjelaskan:

“Dulu, sebelum Sangiran kedatangan londo (peneliti fosil bangsa asing), balung buto banyak bertebaran di lereng-lereng bukit, di tegalan, di tepi sungai dan di sawah. Tidak ada orang yang mengganggu, apalagi mengam-bil. Para petani pada pagi hari seringkali mengumpulkannya dengan cara me-nata satu persatu diletakkan di tepi sawah untuk memperkeras jalan setapak di ladangnya. Jika ada orang yang sakit perut atau digigit ular, barulah balung buto itu dicari untuk obat. Kalau yang menemukan anak-anak, balung buto sering dipakai untuk mainan perang-perangan atau sepak bola.”

 

Jenis penyakit yang dapat disembuhkan oleh daya magis balung buto bermacam-macam, tetapi sebagian besar adalah jenis penyakit yang tersebar luas di kalangan penduduk desa pada umumnya. Dari beberapa informan dapat diketahui terdapat sepuluh jenis penyakit dengan nama dan gejala-gejala yang berbeda, yaitu demam, encok, bisul, disentri, pusing, perut mulas, sakit gigi, gatal-gatal dan retak tulang (keseleo), serta sakit karena gigitan hewan berbisa. Sebagaimana diceritakan kembali oleh beberapa informan di atas usia 70 tahun, diperoleh pemahaman mekanisme pengobatan terhadap penyakit tersebut secara garis besar terdapat tiga cara. Pertama dengan meminum air rendaman balung buta bagi penyakit dalam seperti sakit perut, dan demam. Kedua, dengan cara menggosok atau memijat di bagian tubuh yang sakit bagi penyakit luar seperti keseleo atau retak tulang. Ketiga, menggabungkan kedua cara di atas, khusus untuk sakit gatal-gatal atau sakit karena gigitan hewan berbisa sebagaimana kesaksian mbah Rejopawiro tentang pengalaman ayahnya yang dulu bekerja sebagai pencari katak.

“Dulu (lupa tahunnya) ketika ayah saya sedang mencari katak di sawah, tiba-tiba kaki kirinya digigit ular. Tidak lama kemudian badannya panas dingin menggerang-nggerang kesakitan. Mau dibawa ke rumah sakit Surakarta (20 km jauhnya) tidak ada kendaraan, di samping tidak ada biaya. Jaman dulu memang serba susah, tetapi untung paman saya dari desa sebelah segera datang dan cepat memberikan pertolongan. Malam itu pula paman menyuruh seorang tetangga untuk mencari balung buto. Setelah balung buto diperoleh lalu ditumbuk sampai halus dan diberi garam dan air secukupnya. Bekas luka gigitan ular di kaki ayah segera dicuci dan dikompres dengan air rendaman balung buta. Setiap hari saya disuruh paman membuat ramuan seperti itu untuk membasuh dan mengompres luka gigitan ular di kaki ayah. Tidak lama kemudian ayah memang sembuh benar”.

 

Teknik pengobatan dengan menggunakan balung buto ini dapat dilakukan sendiri atau dengan bantuan seorang dukun tergantung dari berat-ringannya penyakit yang diderita. Kalau penduduk hanya menderita sakit gigi atau digigit hewan berbisa seperti kasus di atas misalnya, tidak perlu minta bantuan kepada dukun. Jika orang menderita penyakit demam yang lama dan tidak tersembuhkan atau patah tulang, barulah mereka minta bantuan dukun sebagaimana dikemukakan mbah Renggo (79 tahun) penduduk Desa Krikilan yang pernah menyaksikan cara pengobatan neneknya yang seorang dukun dengan menggunakan media balung buto. Mbah Renggo mengenang peristiwa masa lalu sambil mengisahkan:

“ sekitar tahun 1925 pernah ada kejadian seorang anak (kawan mbah Renggo bermain) terjatuh dari pohon mangga setinggi 5 meter. Kedua tulang kakinya patah dan tidak bisa berjalan lagi. Banyak orang mengira anak itu meninggal atau paling tidak akan lumpuh jika sembuh. Oleh orang-orang kampung segera anak itu dibawa ke rumah mbah Pawiro Dikromo seorang dukun terkenal pada waktu itu. “Saya ikut mengantar dan melihat sendiri cara penyembuhannya. Sambil mengucapkan mantra-mantra kedua kaki yang patah itu digosok dengan sepotong balung buto sebesar muntu[9] tangan manusia kemudian dipijit-pijit dan ditarik-tariknya. Anak itu meronta-ronta, memang sakit sekali rasanya, tetapi percaya atau tidak, esok harinya dia sudah dapat bermain-main lagi seperti semula”.

 

Kepercayaan terhadap balung buto sebagai sarana penyembuhan, tidak hanya terbatas pada kemampuan menyembuhkan berbagai penyakit seperti diuraikan di atas, tetapi telah berkembang sampai pada kepercayaan bahwa balung buto dapat membantu ibu-ibu yang susah melahirkan anak. Dalam konteks ini pengguna balung buto adalah para dukun bayi seperti diceritakan oleh mbah Kamiyatun yang berusia 67 tahun.

“Ketika daerah Sangiran masih sepi belum ada bidan belum ada puskesmas, ibu hamil jika akan melahirkan seringkali minta bantuan pada dukun bayi. Mbah dukun hanya memberikan tiga gelas air rendaman balung buto dan mengusapkan air itu ke perut ibu yang akan melahirkan. Saya masih ingat cerita ibu saya, katanya saya anak pertama juga susah lahirnya, tetapi setelah ibu diberi minum rendaman balung buto tak lama kemudian mudah melahirkan saya. Selanjutnya kelahiran adik-adik saya mudah dan lancar, karena ibu setiap pagi menjelang kelahiran rajin minum rendaman balung buto”.

 

Menurut mbah Kamiyatun, balung buto tidak hanya dapat melancarkan kelahiran manusia, melainkan juga dapat memperlancar kelahiran hewan piaraan seperti sapi, kerbau atau kuda dengan cara memberi minum rendaman air balung buto sebanyak-banyaknya menjelang hewan piaraan itu akan melahirkan. Contoh kasus terakhir itu sayang sekali tidak dapat dilacak langsung dari informan yang pernah mengalami, kecuali dari pak Suratmo (mantan carik) yang pernah mendengar cerita dari orang-orang tua tentang seekor sapi yang mudah melahirkan setelah diberi minum rendaman balung buto. “Bapak saya dulu juga pernah menasihati agar memberikan minum rendaman balung buto kepada hewan piaraan yang sakit” kata Mbah Kamiyatun berusaha meyakinkan.

Konsep tradisional tentang kepercayaan fosil sebagai materi medica tidak hanya terdapat di Jawa (Sangiran), melainkan juga di daratan Cina. Khususnya di Cina Selatan, fosil pernah dipercaya sebagai sisa tulang naga "Dragons bone" yang pada awal abad XVIII masih dipergunakan oleh para Sin-she untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti liver, epilepsi, dan sembelit. Fosil khususnya berupa gigi-geligi dan tanduk dipergunakan sebagai obat dengan cara direbus kemudian ditumbuk halus untuk diminum (Gayrard, 1994 : 24).

Di samping itu, para Sin-she di Hongkong mempergunakan fosil sebagai obat untuk berbagai macam gejala penyakit seperti penyakit jantung, hipertensi, penyakit syaraf, epilepsi, desentri, demam, insomnia, dan obat-obat lain yang senantiasa dicari-cari sepanjang masa, yaitu obat awet muda. Fosil-fosil untuk obat  dibagi menjadi 2 jenis : liung tse (gigi-geligi naga) yang sangat mujarab dan liung khu (tulang belulang naga) yang tidak begitu berkhasiat. Pemanfaatan fosil sebagai media menyembuhan diperkirakan sudah mulai sejak Dinasti Han (206 SM) (Broderick, 1964 : 26).

 

 

2. Balung buto Sebagai Jimat Kekebalan

Kepercayaan khasiat balung buto sebagai obat penyembuh penyakit, dapat dipraktekkan sendiri tanpa bantuan dukun, namun berbeda dengan kepercayaan kemampuan balung buto sebagai jimat kekebalan badan harus melibatkan seorang dukun. Kepercayaan balung buto sebagai jimat kekebalan badan itu sangat populer semasa revolusi. Menurut mbah Toto Marsono jaman dulu banyak pejuang sebelum maju ke medan perang minta gembolan atau jimat kepada dukun terkemuka di Sangiran. Dulu memang ada seorang dukun terkenal di sini yang dapat memberikan jimat kepada orang agar tubuhnya kebal dari senjata apa saja. Katanya di samping para pejuang, mbah dukun juga sering didatangi para penjahat seperti, pencuri, begal atau rampok untuk minta gembolan. “Ketika saya berusia 25 tahun dukun itu sudah tua sekali, namanya mbah Rejo Pawiro Dikromo,” kata mbah Toto Marsono berusaha meyakinkan. Praktek pemberian jimat itu tidak perlu susah-susah melakukan puasa. Dukun cukup menggunakan petungan (numerologi) yang biasanya menghubungkan antara hari kelahiran (weton) dengan hari pasaran. Dengan berbagai perhitungan yang rumit, dapat dihasilkan suatu jumlah angka yang berkaitan dengan hari baik untuk menggunakan jimat. Ketika dimintai contoh orang kebal yang pernah dilihatnya sendiri, mantan Kepala Desa Krikilan ini menceritakan.

“Dulu ada seorang begal yang tertangkap di Dusun Bapang dan dihajar oleh penduduk. Anehnya si penjahat itu tidak berteriak kesakitan, karena memang sedikit pun tidak ada darah yang keluar. Bahkan yang memukuli malah sakit tangannya, karena terasa seperti memukul benda keras. Tiba-tiba salah seorang penduduk ada yang pintar lalu mencetuskan ide supaya pencuri itu ditelanjangi agar jimatnya ketahuan tempat menyimpannya. Setelah semua pakaian di tanggalkan, ternyata di balik ikat pinggangnya terdapat bungkusan kain putih yang berisi 3 buah balung buto sebesar kecik (biji buah sawo). Jimat itu kemudian dibuang. Ketika penduduk mencoba memukulnya lagi, pencuri itu berteriak kesakitan sampai akhirnya pingsan dengan tubuh berlumuran darah. “Biasanya memang jimat itu disimpan di dalam ikat pinggang atau dibuat kalung. Jimat untuk kekebalan itu tidak sembarang balung buto, tetapi jenis balung buto berupa gigi.”

 

 

3. Balung buto Sebagai Jimat Pengusir Setan

Kepercayaan lain terhadap balung buto, khususnya berupa gigi adalah kemampuannya sebagai jimat pengusir setan atau makhluk halus. Oleh karena itu, gigi buto bagi penduduk Sangiran zaman dulu dipandang lebih bernilai dari pada jenis balung buto lainnya. Gigi buto yang sering disebut untu warak (gigi badak) banyak dicari orang, tetapi menurut informan tidak semua orang dapat memperolehnya kecuali orang-orang tertentu yang beruntung atau yang mendapat wangsit sebelumnya. Kepercayaan gigi warak dapat mengusir setan atau makhluk halus merupakan fenomena yang menarik di daerah Sangiran yang sampai sekarang masih dapat dilihat bekas-bekasnya.

Secara umum penduduk Sangiran mengelompokkan makhluk halus menjadi dua golongan, yaitu makhluk halus yang baik dan makhluk halus yang jahat. Makhluk halus yang baik adalah roh leluhur yang dapat dimintai pertolongan, dan makhluk halus yang jahat disebut setan yang dapat mengganggu dan mencelakakan manusia. Setan sebagai mahkluk halus yang tidak kelihatan mata, banyak sekali macamnya seperti gendruwo, banaspati, dan tetekan yang secara detail tidak pernah ada kesamaan pandangan, baik sifat maupun bentuknya antara satu orang dengan orang lain. Orang memiliki pandangan sendiri sesuai dengan pengalaman dan imajinasinya, tetapi mereka percaya makhluk adikodrati itu tidak terlihat namun terasakan. Oleh karenanya makhluk halus disebut pula bongso halus atau lelembut, artinya sesuatu yang tidak kelihatan mata. Semua makhluk halus yang jahat yang mengganggu manusia, bagi penduduk Sangiran disebut dengan setan.

Pandangan penduduk Sangiran tentang makhluk halus di atas berbeda dengan pandangan masyarakat Mojokuto, Jawa Timur pada tahun 1950-an sebagaimana didiskripsikan oleh Geertz (1983: 19--35), yaitu bahwa ada tiga jenis makhluk halus: memedi, lelembut dan tuyul.  Seorang informan mengisahkan, bahwa lelembut tidak hanya ngetoki[10] dan mengganggu manusia melainkan juga dapat mencelakakan. Jika jiwa manusia kosong karena pikirannya melayang, apalagi kalau orang itu tidak memiliki iman, maka lelembut mudah sekali merasuki jiwa yang kosong itu. Orang yang kerasukan atau kesurupan lelembut akan hilang kesadarannya. Jika dibiarkan, lama-kelamaan akan lemas bahkan dapat menemui ajalnya. Untuk mengatasi masalah ini, biasanya orang zaman sekarang minta bantuan dokter, “Tetapi bapak percaya atau tidak, balung buto zaman dulu sering digunakan untuk mengusir setan," kata mantan carik itu sambil berusaha meyakinkan dengan memberikan contoh kisah yang dilihatnya sendiri sewaktu ayahnya (bukan dukun) mengobati tetangga desa sebelah.

“suatu hari, seorang tetangga dusun bernama Pak Kartowongso, sehabis menebang pohon di hutan, pulang ke rumah tiba-tiba mengalami kejang-kejang, suhu badannya panas, dan ngomel tidak karuan. Orang bilang dia kesurupan lelembut penunggu pohon angker itu. Mendengar berita tadi ayah segera mengambil balung buto yang digantungkan di atas pintu rumah untuk memberikan pertolongan. Balung buto yang dipegang ayah digosokkan merata keseluruh tubuh korban yang ditidurkan telentang. Ketika balung buto tepat menyentuh kuku di ibu jari korban, tiba-tiba korban berteriak kesakitan. “Aduh kapok, aku culna jimatmu,” (aduh sakitnya, lepaskan jimatmu). Rupanya lelembut tadi bersembunyi di kuku ibu jari. Mengetahui hal itu, semakin kuat ayah menekan kuku ibu jari korban sambil menanyakan, Siapa namamu?, dimana rumahmu? apa kemauanmu?. Anehnya korban menjawab dengan suara yang bukan suaranya. Akhirnya, lelembut itu mau pergi dengan syarat dilepaskan balung buto yang menekannya dan dibuang jauh-jauh. Begitu balung buto dilepaskan, korban langsung siuman dan kebingungan dengan peristiwa yang baru saja terjadi menimpa dirinya”.

 

Konsep Jawa tentang kesurupan sudah berkembang di mana-mana. Lelembut menurut beberapa informan selalu masuk ke dalam tubuh manusia melalui telapak kaki. Itulah sebabnya orang setelah bepergian harus membasuh telapak kakinya sebelum memasuki rumah. Lelembut juga dapat bertamu dengan cara memba[11] menyamar sebagai salah seorang sahabat atau famili yang akan diganggunya, bahkan dapat memba menjadi salah seorang anggota keluarga. Guna mengatasi gangguan seperti itu, pada zaman dulu penduduk Sangiran menggunakan untu (Jw = gigi) warak sebagai media penolak bala. Adapun caranya untu warak dibungkus kain putih bersama bunga melati dan dupa kemudian digantungkannya di atas ambang pintu masuk rumah. Guna menjaga diri dari gangguan makhluk halus, untu warak juga seringkali dijadikan kalung atau diletakkan di dompet. Sisa–sisa kepercayaan magis demikian itu, sampai sekarang masih dapat ditemukan di antara warga Sangiran yang masih kuat kepercayaannya.

Pada tanggal 26 Desember 1996 ketika penulis menjenguk informan mbah Toto Marsono yang sakit diopname di RS Surakarta, sempat bertemu dengan salah seorang putrinya yang kebetulan sedang menjaganya. Ibu Marsiyem putri mbah Toto yang sekarang berusia 61 tahun menjelaskan, kemana pun pergi dia tidak pernah melepaskan untu warak dari badannya. Untu warak itu dibungkus kain putih dan disimpannya di dompet yang pada hari-hari tertentu diberi sesaji bunga melati dan dupa. Dia mengibaratkan untu warak seperti keris, jika dipelihara baik-baik katanya bisa menjaga keselamatan orang. Ketika saya menanyakan bagaimana bentuk untu warak tersebut? Bu Marsiyem tidak keberatan memperlihatkan jimatnya yang menurutnya mampu melindungi dirinya selama ini dari gangguan makhluk halus. Untu warak itu berwarna hitam, berukuran seperti layaknya taring hewan berkaki empat lainnya. Bu Marsiyem menyatakan, gigi warak ini juga sering dipinjam oleh keluarga dekatnya yang akan bepergian jauh, atau untuk mengobati orang kesurupan. “Saya lebih merasa tenang kalau membawa ini,” ujarnya sambil memasukan jimat untu waraknya ke dompet.

 

 

B.  Makna Mitos

Pada hakekatnya inti  mitos balung buto adalah mengisahkan peperangan antara pasukan Raden Bandung melawan para raksasa dengan rajanya yang bernama Tegopati yang mengganggu ketentraman daerah Sangiran. Pada awalnya dalam perang itu Raden Bandung mengalami kekalahan yang kemudian minta bantuan kepada dewa. Oleh dewa dia disuruh menenggelam diri ke sebuah danau yang akhirnya  bertemu dengan Dewa Ruci. Dari episode ini, dapat diketahui bahwa mitos balung buto tersebut dipengaruhi oleh kisah Dewa Ruci atau Bima suci dalam dunia cerita pewayangan. Kisah Bima Suci di kalangan masyarakat Jawa memang sangat populer dan diyakini sarat akan ajaran filsafat tentang kehidupan, khususnya tentang proses upaya manusia menemukan jati dirinya.

Dalam kisah Dewa Ruci diceritakan bahwa Bima, tokoh kedua dari pandawa, berguru pada begawan Durna yang kemudian disuruh Sang Begawan untuk mencari Air Suci yang disebut “Tirta Amarta atau air kehidupan”. Puncak dari cerita ini adalah pertemuan Bima dengan Dewa Ruci di dasar samodera dan di situlah Bima memperoleh pelajaran mengenai kehidupan dan jati diri. Kisah Dewa Ruci memiliki kemiripan dengan mitos Balung Buto. Ketika Raden Bandung kalah perang dan bertapa dihutan  dia mendapat wangsit dari dewa untuk menenggelamkan diri di danau. Di dalam mitos dikisahkan bahwa di dasar danau itulah Raden Bandung bertemu dengan Dewa Ruci dan diberikan pelajaran tentang arti kehidupan, sekaligus cara megalahkan para raksasa musuhnya. Pada akhir pertemuan, dalam mitos menjelaskan bahwa Raden Bandung disuruh mengasah kukunya yang panjang disebuah batu.

Bagi masyarakat Jawa yang menyukai kisah wayang. Antara kisah Bima Suci dengan tokoh Raden Bandung dari mitos Balung buto terdapat suatu relasi yang dapat digambar :   

 

Raden Bandung  = Bima = Dewa Ruci

 

Sebagian masyarakat Jawa meyakini, bahwa cerita Dewa Ruci ditulis oleh Sunan Kalijaga, salah seorang walisanga termuda. Sembilan wali ini dianggap sebagai tokoh yang mengislamkan Jawa melalui berbagai cara termasuk kisah wayang Dewa Ruci. Jika hal ini benar maka dapat diperkirakan kisah Balung Buto ini muncul paling cepat adalah pada masa pengaruh Islam di Jawa.    

Dalam salah satu episode mitos balung buto dikisahkan, bahwa para raksasa itu terbunuh semua sehingga tulang-belulangnya berserakan tersebar di mana-mana. Peristiwa tersebut memperlihatkan banyaknya bala tentara raksasa yang tewas dalam peperangan tersebut sehingga jazadnya tercecer di mana-mana, bahkan ada yang meninggal terkubur bukit, tenggelam di danau dan sungai-sungai. Adalah fakta budaya yang tidak dapat dipungkiri di kawasan Sangiran sekarang ini banyak ditemukan fosil atau tulang-tulang hewan dan manusia purba. Padang purbakala Sangiran seluas 56 Km persegi ini berbagai fosil hewan dan  fosil manusia purba dengan mudah bisa ditemukan di mana pun. Di sawah, ladang, sungai atau di lembah, fosil bermunculan dengan sendirinya karena erosi bukit yang longsor oleh guyuran air hujan.

Melalui fakta budaya tersebut kita dapat menafsirkan, bahwa tulang-tulang raksasa tersebut merupakan simbol dari fosil-fosil yang memang banyak terkubur di tanah tua Situs Sangiran. Dengan mengangkat dan menampilkan tokoh raksasa sebagai obyek cerita yang justru pada akhirnya tewas semuanya dan menyisakan tulang-tulangnya, maka masyarakat Sangiran merasa dapat mengatasi dan menjelaskan konflik batin mereka.  Tokoh raksasa itu sendiri di dalam mitos disebut sangat sakti, karena terbukti Raden Bandung pada awalnya mengalami kekalahan. Kesaktian para raksasa di dalam mitos ini, teraktualisasikan dalam wujud kepercayaan masyarakat Sangiran sebagaimana dapat diliat pada data etnografi mereka. Masyarakat Sangiran sebelum tahun 1930- an atau sebelum kedatangan para peneliti fosil bangsa barat, mereka mempercayai tulang-tulang itu memiliki kekuatan religius-magis, menyembuhkan penyakit, pengusir setan, bahkan diyakini sebagai jimat kekebalan.  

Demikianlah kisah balung buto, sebagai wujud upaya kognitif masyarakat Sangiran dalam mengatasi problematik kultural yang mereka temui di lingkungan alam sekitarnya, namun tidak pernah mampu mereka jawab. Artinya adalah tulang-tulang apakah yang berukuran besar dan tersebar di lingkungan alam Sangiran tersebut? Dan bagaimanakah  tulang-tulang berukuran besar itu bisa terkubur di Sangiran? Jawaban yang diberikan adalah tulang-tulang itu bukan berasal dari manusia atau hewan, melainkan dengan menyodorkan figur lain yang lebih besar dan bersifat mitis, yaitu raksasa. Tokoh raksasa ini dalam kebudayaan Jawa  merupakan tokoh mitis yang dianggap memiliki pisik besar dan menyeramkan karena mereka bukan manusia bukan dewa.  Dalam konteks di sini tokoh raksasa tersebut merupakan tokoh liminal sebagai media transformasi yang tidak lain ada sama dengan fosil dan juga identik dengan tulang-tulang yang berukuran besar tersebar di kawasan Sangiran.

 Dari uraian di atas, dapatlah diketahui bahwa mitos balung buto dapat ditafsirkan sebagai sebuah proyeksi dari realitas sehari-hari masyarakat sangiran yang penuh dengan pertentangan batin dan teka-teki tak terpecahkan. Proyeksi tersebut disampaikan dalam bentuk struktur mitos yang bersifat dialektis. Melalui mitos Balung Buto inilah, orang Sangiran berhasil mentranformasikan keterbatasan pengetahuan mereka terhadap kondisi lingkungan alam sekitarnya yang potensi akan fosil  ke tataran mitis yang lebih konkrit sifatnya, yaitu dalam bentuk dongeng atau mitos Balung Buto.

 

IV. Penutup

Mitos memang bukan hanya merupakan pemikiran intelektual dan bukan pula hasil logika, tetapi lebih merupakan orientasi spiritual dan mental untuk berhubungan dengan Yang Illahi. Bagi masyarakat tradisional Sangiran, mitos Balung Buto merupakan suatu cerita yang dianggap benar-benar terjadi dan cerita itu menjadi milik mereka bersama yang berharga. Mitos Balung Buto, menciptakan suatu sejarah atau peristiwa yang dianggapnya suci yang terjadi pada waktu primordial, pada awal mula. Mitos Balung Buto,  menceritakan bagaimana suatu realitas mulai bereksistensi melalui tindakan dewa atau makhluk supra-natural. Oleh karena mitos dipandang memiliki makna dan bahkan sesuatu yang mungkin dianggapnya “sakral”,  maka ia menjadi contoh model untuk dijadikan referensi  bagi manusia pendukungnya dalam bertindak dan bersikap. Dengan perkataan lain mitos tak ubahnya peraturan tak tertulis yang mengatur kehidupan masyarakat pemilik mitos.

Demikianlah kekuatan mitos bagi masyarakat tradisional pendukungnya, mitos mengungkapkan takbir misteri peristiwa primordial yang masih sering diulang dan diceritakan kembali dalam ritus-ritus penting mereka sekarang. Ia merupakan model paradigmatis tentang apa yang terjadi pada awal mula dan memberikan contoh model  untuk dijadikan dasar acuan  dalam bersikap dan berperilaku. Dalam taraf kebudayaan yang arkhais, pekerjaan apa saja yang dilakukan manusia memiliki model yang adi-manusia, yaitu model tokoh supra-natural atau model karya dewa dan para leluhur mitis mereka. Mereka menemukan contoh-contoh model itu di dalam mitos dan setiap tindakan itu dibenarkan dengan mengambil referensi pada mitos. 

Dengan demikian, mitos atau dongeng Balung Buto, bukan sekedar cerita tanpa arti atau sekedar kisah penghibur diwaktu senggang. Lebih dari itu, mitos Balung Buto merupakan media penyampaian pesan atau ungkapan simbolis dari konflik-konflik batiniah yang tidak mampu terpecahkan oleh masyarakat  Sangiran masa lalu. Konflik batin yang dimaksud adalah pertanyaan apa dan mengapa banyak tulang-belulang berukuran besar terpendam dan tersebar di bumi Sangiran. Mitos Balung Buto merupakan sarana untuk mengelakkan, memindahkan sekaligus mengatasi konflik batin mereka yang tidak terpecahkan. Oleh karena itu,  mitos ini dapat dimanfaatkan sebagai cendela bagi kita untuk mengintip budaya masyarakat sangiran masa lampau pencipta mitos.  Kalau pun sekarang persepsi masyarakat Sangiran terhadap balung buto, alias fosil telah berubah dari persepsi magis ke ekonomis, sudah pasti perubahan-perubahan tersebut perlu penjelasan tersendiri di luar kerangka topik makalah ini.   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KEPUSTAKAAN

 

Ahimsa Putra, Heddy Shri,. “Claude Levi-Strauss: Butir-butir Pemikiran Antropologi” pengantar dalam Levi-Strauss Empu Antropologi Struktural. Terjemahan LKIS Yogyakarta, 1997.

 

___________,  Strukturalisme Levi-Strauss Mitos dan Karya Sastra. Yayasan Adi Karya IKAPI dan the Ford Foundation, Yogyakarta, 2001.

 

Bodrick, Alan Houghton, Man and His Ancestry, Fawcett Publications, Inc, Greenwich, Conn, 1964.

 

Cassirer Ernst, Manusia dan Kebudayaan : Sebuah esei Tentang Manusia. Terjemahan Oleh Alois A. Nugroho, Jakarta: PT Gramedia, 1978.

 

Cohan, Percy S, “Theories of Miyth” , dalam Man, The Journal of the Royal Antroplolical Institute. Vol. 4. No. 3. September 1969 Hlm, 337 – 353.

Dundes, A,  Sacred Narrative : Reading in the Theory of Mith. Berkeley : University of California Press, 1984.

 

Eliade, Mircea,  Pattern in Comparative Religion, terjemahan : Rosemary Sheed, London dan New York, Sheed  and Ward. Dari judul  asli : Traite d’Histoire  des Religions, Paris, Payot, 1958.

 

___________, The Sacred and The Profane, Terjemahan : Willard R. Trask, New York, Harcourt, Brace &  World Inc, 1959. 

 

Gardner, E.A. “Mithology” dalam James Hasting (ed) Encyclopedia of Religion and Ethics. Vol. XII.New York: The Macmillan  Company & The Free Press,  1961, (hal.) 118 – 121.

 

Gayrard-Valy, Yvette, The Story of Fossils  in Search of Vanished Worlds. London:Thames and Hudson Ltd, 1994.

Geerrtz, Clifford, The Interpretation of Cultures, New York: Basic Books, Inc., Publishers 1973.

 

Malinowski, Bronislow, Magic, Science and Religion. New York: Daubleday Anchor Book. Daubleday & Company. Inc, 1954.

 

Sulistyanto Bambang, Balung Buto : Warisan budaya dunia Dalam Perspektif Masyarakat Sangiran,  Yogyakarta: Yayasan Adi Karya dan Ford Foundation, 2003.

 

Strauss C, Levi, Structural Anthropology,  New York: Basic  Books, 1963.

 

___________, Structural Anthropology 2 New York: Penguin Books, 1976.

 

Susanto, Hary, Mitos Menurut Pemikiran Mircea Eliade, Yogyakarta: Kanisius 1987

 


[1] Kisah mitos balung buto dituturkan kembali kepada penulis dengan jelas dan runtut oleh informan kunci mbah Toto Marsono sesepuh Desa Krikilan, Sangiran pada tahun 1999. Pada saat itu usia Mbah Toto Marsono telah berusia 89 tahun.

[2]   Lokasi pertapaan Raden Bandung tersebut, oleh masyarakat dipercaya berada di Dusun Tapan (Jw tempat bertapa). Secara administratif Dusun Tapan berada di kawasan Sangiran tepatnya masuk wilayah Desa Cangkol, Kecamatan Plupuh.

[3]   Telaga (Jw = kedung) tempat Raden Bandung menenggelamkan diri, oleh masyarakat dipercaya berada di Dusun Kedung Wringin. Secara administratif Dusun Kedung Wringin berada di kawasan Sangiran masuk wilayah Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe.

[4]   Sangir adalah nama lokal untuk menyebut batu asah atau wungkal. Oleh karena itu, di sekitar daerah di lereng bukit tersebut dinamakan Sangiran artinya tempat batu asahan.

[5]   Nama Glagahombo lokasi kerajaan raksasa itu, sampai sekarang masih terpateri menjadi nama Dusun yang oleh masyarakat setempat dipercaya sebagai bekas lokasi kerajaan raksasa. Secara administratif Dusun Glagahombo berada di kawasan Sangiran masuk dalam wilayah Desa Ngebung, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen.

[6]Tempat penjagaan itu sampai sekarang dipercaya berada di Dusun Jagan, Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen.

[7]Masih banyak nama-nama tempat yang oleh masyarakat Sangiran dikaitkan dengan peristiwa perang antara pasukan rakasasa melawan rakyat Raden Bandung. Seperti misalnya Dusun Krajan, dipercaya sebagai bekas kerajaan Raden Bandung.

[8] Data entografis tentang kepercayaan masyarakat terhadap Balung Buto ini direkam oleh penulis pada tahun 1989, lihat Bambang Sulistyanto, Balung Buto : Warisan budaya dunia Dalam Perspektif Masyarakat Sangiran,  Yogyakarta: Yayasan Adi Karya dan Ford Foundation, 2003.

[9] Muntu adalah alat untuk menumbuk cabe atau bumbu dapur lainnya yang terbuat dari batu atau kayu.

[10] Ngetoki adalah memperlihatkan diri.

[11] Memba (Jw) mengubah diri atau menyamar menjadi suatu bentuk yang diinginkannya guna memperdaya manusia. 


comments powered by Disqus

Baca Lainnya


Berita Arkenas

Publikasi Penelitian
Penelitian Lainnya

Peradaban Di Lingkungan Karst Kabupaten OKU, OKU Timur, dan OKU Selatan

Sunday 22 / Atika

ABSTRAK Penelitian arkeologi di wilayah OKU oleh Pusat Arkeologi Nasional merupakan suatu rangkaian penelitian yang dilakukan secara intensif dan berkesinambungan. Pengumpulan data lapangan melalui metode dan teknik berlatar multidisipliner yang…

Baca Selengkapnya...


Kategori Terbitan

Aspek
device it's being served on. Flexible grids then size
1 Tulisan
Amerta
device it's being served on. Flexible grids then size.
20 Tulisan
BPA
device it's being served on. Flexible grids then size.
300 Tulisan
Kalpataru
device it's being served on. Flexible grids then size.
1325 Tulisan
Monografi
device it's being served on. Flexible grids then size.
2000 Tulisan