Artikel ARKENAS

Arkeologi Klasik Hindu Buddha

Dibaca 554 kali article

Candi Jepara

Friday 09, Jun 2017 09:35 AM / Atika

Jauh di daerah hulu sungai Komering, pada jarak sekitar 700 meter dari tepi Danau Ranau, di Desa Jepara (Kec. Banding Agung, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan) ditemukan sebuah runtuhan bangunan candi yang dibuat dari batu alam. Runtuhan bangunan kuno ini terletak  pada kebun kopi yang letaknya di sebelah barat desa. Untuk mencapai lokasi tidak sulit karena sudah ada jalan beraspal yang menghubungkan kota Baturaja dan daerah wisata Danau Ranau.

Candi Jepara untuk pertama kalinya dilaporkan penemuannya oleh se­orang kon­trolir Belanda yang bernama G.A Schouten (NBG 1885: 52-53). Dalam laporannya dise­butkan bahwa Candi Jepara dibuat dari batu alam dan mempu­nyai denah berukuran 8,1 x 9,6 meter. Di sekitar runtuhan bangunan masih merupakan semak belukar dan di anta­ra rimbunan semak terdapat batu-batu can­di. Selanjutnya, dalam Oudheidkundige Vers­lag tahun 1914 di­sebutkan ada­nya sebuah suatu candi batu di Desa Jepara di tepi Danau Ranau.

Pada tahun 1937, seorang konservator musium di Palembang, melapor­kan adanya fon­dasi bangunan candi dari batu alam yang berukuran 8,10 x 9,60 meter. Di sisi timur­nya ter­dapat empat buah anak tangga. Profil dindingnya berbentuk ojief dan se­tengah ling­karan. Bangunan candi dari batu alam (maksudnya andesit) sangat jarang ditemu­kan di Sumatra (Schnitger 1937: 4).

Bangunan Candi Jepara dibuat dari batu alam. Bagian yang masih ter­sisa dari keseluruhan bangunan adalah bagian kaki. Ekskavasi yang dilakukan pada tahun 1984 ber­hasil menampakkan sisa kaki bangunan ini, yang beberapa bagiannya juga sudah hi­lang. Bagian kaki bangunan yang nampak masih baik terletak di sisi barat, tetapi kedua ujung­nya telah hilang. Bagian kaki yang meng­alami kerusakan terparah terdapat di sisi timur. Pada bagian ini yang ma­sih ter­sisa adalah pintu masuknya dengan ukuran 2,0 x 2,50 meter. Ukuran bangunan yang dapat diketahui adalah 8,30 x 9,70 meter membujur arah barat-timur. Kedalaman fondasi sekitar 30 cm. Profil bagian kaki ini adalah sisi genta dan setengah lingkaran.

Pemerian yang dibuat Schnitger berlainan dengan pemerian yang mu­takhir, ter­utama pada ukurannya. Schnitger menyebutkan ukurannya 8,10 x 9,60 meter, sedangkan lapor­an yang mutakhir menyebutkan 8,30 x 9,70 meter. Perbedaan ini mungkin dise­babkan oleh per­geseran batu candi yang terjadi karena licinnya tanah tempat berpi­jak­nya bangunan tersebut. Jika dihitung dari kedalaman fondasi, maka dapat diduga bahwa bangunan Candi Jepara tidak terdapat bagian badan dan atap bangunan. De­ngan kata lain, bangunan Candi Jepara berbentuk semacam teras yang tidak mempunyai dinding (bilik) dan atap bangunan.

Berdasarkan pengamatan pada bentuk hiasan, pada bangunan Candi Jepara menun­juk­­kan gejala bahwa bangunan tersebut belum selesai dikerjakan. Gejala ini ter­lihat pada bagian pintu ma­suk bangunan berupa goresan-goresan yang mengarah pada bentuk leng­kungan. Goresan-goresan tersebut memberi kesan bahwa bangunan ter­sebut belum selesai dikerjakan.   

Petunjuk pasti yang dapat menen­tukan pertanggalan bangunan Candi Jepara belum ditemukan. Petunjuk itu antara lain berupa prasasti. Na­mun demikian, petunjuk pertang­galan mengenai bila didirikannya bangunan Candi Jepara dapat di­peroleh dengan cara meng­adakan perbandingan langgam dengan candi-candi lain yang sudah diketa­hui per­tanggalannya. Perbeda­an langgam da­pat dilihat dari bentuk profil kaki bangunan.

Pada umumnya, bangunan candi yang dibangun pada masa awal (mi­salnya candi-candi di Dieng dan Gedongsongo) mempunyai bentuk kaki bangunan yang tinggi, tanpa hiasan, dan berpelipit sederhana. Pada per­kembangan selanjutnya, bentuk pelipit yang sederhana itu ber­ubah menjadi bentuk sisi genta, setengah lingkaran, dan mempunyai hiasan. Pada akhir masa Hindu Buddha Indonesia (sekitar abad ke-15 Mase­hi, bentuk sisi genta dan setengah lingkaran berubah menjadi ben­tuk bersegi-segi (misalnya pada Candi Gedingsuro di Palembang dan candi-candi dari masa Maja­pahit). Jika diteliti bentuk profil kaki bangunan Candi Jepara yang mempunyai pelipit sisi genta dan se­tengah lingkaran, maka dapat diduga bahwa Candi Jepara berasal dari sekitar abad ke-9-10 Masehi. Bentuk profil ini seperti yang ditemukan pada Candi Plaosan, Sari, dan Sambisari di Jawa Tengah. (BBU)


comments powered by Disqus

Baca Lainnya


Berita Arkenas

Publikasi Penelitian
Penelitian Lainnya research

Mengulik Jejak Budaya Manusia Purba Kobatuwa di Cekungan Soa, Flores Timur

Friday 25 / Atika

LATAR PENELITIAN Penelitian di wilayah Cekungan Soa pertama kali dipelopori oleh , seorang missionaris berkebangsaan Belanda pada sekitar tahun 1960-an. Dalam laporannya ia menginformasikan bahwa di Situs Matamenge, Boa Lesa…

Baca Selengkapnya...


Kategori Terbitan

Aspek
device it's being served on. Flexible grids then size
1 Tulisan
Amerta
device it's being served on. Flexible grids then size.
20 Tulisan
BPA
device it's being served on. Flexible grids then size.
300 Tulisan
Kalpataru
device it's being served on. Flexible grids then size.
1325 Tulisan
Monografi
device it's being served on. Flexible grids then size.
2000 Tulisan