Artikel ARKENAS

Arkeologi Klasik Hindu Buddha

Dibaca 613 kali
  • article

  • article

  • article

  • article

  • article

Malayu Pendahulu Sriwijaya yang Tetap Bertahan

Tuesday 05, Apr 2016 10:58 AM / Atika

Beberapa puluh tahun sebelum lahirnya Kadatuan Sriwijaya di Sumatra telah ada Kerajaan Malayu. Setidak-tidaknya demikian pemberitaan I-tsing dalam catatan hariannya. Dalam kitab sejarah Dinasti T’ang ditemukan catatan tentang datangnya utusan dari Mo-lo-yeu di Tiongkok pada tahun 644 dan 645. Nama Mo-lo-yeu ini dapat dihubungkan dengan Malayu yang letaknya di sekitar daerah aliran sungai Batanghari dengan pusatnya di Jambi.

Pada tahun 672 I-tsing, seorang bhiksu dari Tiongkok, dalam perjalanannya dari Kanton menuju India, singgah di Shih-li-fo-shih selama enam bulan untuk memperdalam tata-bahasa Sansekerta. Dari Shih-li-fo-shih kemudian ia berlayar ke Mo-lo-yeu. Di Mo-lo-yeu ia tinggal selama enam bulan. Selanjutnya dari Mo-lo-yeu ia melanjutkan perjalanannya menuju Nalanda dengan menyinggahi Chieh-cha (Kedah di Semenanjung Tanah Melayu). Di Nalanda ia memperdalam ajaran Buddha selama beberapa tahun. Kemudian pada sekitar tahun 685 ia kembali dari Nalanda dengan menyinggahi beberapa tempat yang dulunya disinggahi, Chieh-cha dan Mo-lo-yeu. Ketika sampai di Mo-lo-yeu, ia mencatat bahwa Mo-lo-yeu sekarang telah menjadi Fo-she-to. Setelah tinggal sampai pertengahan musim panas, dari Mo-lo-yeu kemudian ia meneruskan perjalanannya ke Kanton.

Catatan harian I-tsing tersebut menginformasikan pada kita bahwa pada sekitar tahun 685 Sriwijaya telah memperluas wilayah kekuasaannya. Mo-lo-yeu atau Malayu yang letaknya di daerah aliran sungai Batanghari tentunya menjadi bagian dari Sriwijaya. Kenyataan ini diperkuat dengan dibuatnya prasasti persumpahan Karangberahi dari Merangin, cabang Batanghari.

Tinggalan Kerajaan Malayu sebelum Sriwijaya hingga saat ini masih sulit ditemukan. Artinya, tinggalan tersebut harus lebih tua dari Prasasti Kedukan Bukit yang bertanggal 16 Juni 682. Mungkin salah satunya tinggalan Kerajaan Malayu adalah beberapa bangunan dari kompleks Muara Jambi, seperti misalnya Candi Gumpung. Candi ini dibangun dalam beberapa tahap pembangunan, dan yang termuda berasal dari sekitar abad ke-13. Pada perkembangan selanjutnya Malayu tetap menjadi bagian dari Sriwijaya, namun keberadaannya lebih lama. Ketika Sriwijaya runtuh pada sekitar abad ke-12-13, Malayu terus berkembang dan mencapai kejayaannya pada masa pemerintahan ?dityawarmman (abad ke-14).

Sejalan dengan berkembangnya Kerajaan Malayu, berkembang pula ajaran Buddha. Pada saat Adityawarmman berkuasa, ajaran Buddha berkembang menjadi aliran Tantrayana dari Sekte Bhairawa. Keberadaan sekte ini di Sumatra sudah mulai tampak di Candi 3, kompleks percandian Bumiayu (Sumatra Selatan). Arca-arca yang ditemukan dari situs ini menunjukkan keraksasaan. Sebuah arca torso dari bahan terrakota menggambarkan sesosok Bhairawi dengan kalung untaian tengkorak manusia. 

Ketika pusat Kerajaan Malayu berada di wilayah hulu Batanghari (Sumatra Barat), Sekte Bhairawa mencapai bentuknya. Adityawarman adalah raja yang menganut sekte ini. Boleh jadi ia mulai mempelajari ketika berada di Jawa sebelum menjadi penguasa di Malayu. Sebuah arca raksasa yang ditemukan di Padangroco menggambarkan Adityawarmman sebagai Bhairawa. Demikian juga pada sebuah prasasti dari Surawasa I  (16 Mei 1374) yang menceriterakan pentahbisan  Adityawarmman sebagai ksetrajna sebagai Wisesadharani berdasarkan aliran Bhairawa. (Bambang Budi Utomo)


comments powered by Disqus

Baca Lainnya


Berita Arkenas

Publikasi Penelitian
Penelitian Lainnya research

Kerajaan Melayu Pindah ke DAS Batanghari, Dharmasraya, Sumatera Barat

Thursday 27 / Atika

Daerah hulu Batanghari dan Rambahan, tidak lepas dari latar belakang sejarah daerah tersebut yang dikaitkan dengan dua kerajaan besar di awal Masehi yaitu Melayu dan Sriwijaya. Kedua kerajaan saling mendominasi…

Baca Selengkapnya...


Kategori Terbitan

Aspek
device it's being served on. Flexible grids then size
1 Tulisan
Amerta
device it's being served on. Flexible grids then size.
20 Tulisan
BPA
device it's being served on. Flexible grids then size.
300 Tulisan
Kalpataru
device it's being served on. Flexible grids then size.
1325 Tulisan
Monografi
device it's being served on. Flexible grids then size.
2000 Tulisan