Berita ARKENAS

Seminar

Dibaca 662 kali
  • news

  • news

    Kapuslit Arkenas, I Made Geria sedang memaparkan tentang bagaimana mengaktualisasikan hasil-hasil penelitian arkeologi untuk penguatan karakter bangsa pada Seminar Nasional Pendidikan dan Kebudayaan. (Sumber Foto: Ibar Warsita)

  • news

    Suasana presentasi oleh para peneliti Puslitarkenas, duduk dari kanan ke kiri: Sonny Wibisono, I Made Geria, Mahandis Yoanatha, Bagyo Prasetyo, dan Veronique Degroot, pada Seminar Nasional Pendidikan dan Kebudayaan. (Sumber Foto: Ibar Warsita)

  • news

Seminar Nasional Pendidikan dan Kebudayaan, Peneliti Puslitarkenas: Globalisasi Sejak masa Lampau Membentuk Indonesia Beragam Hingga Sekarang

Wednesday 24, May 2017 08:16 AM / Atika

Badan  Penelitian  dan  Pengembangan (Balitbang),  Kementrian Pendidikan dan  Kebudayaan  (Kemendikbud) menggelar Seminar Nasional  Pendidikan dan Kebudayaan pada 23 Mei 2017. Seminar bertempat di Plaza Insan Berprestasi, Gedung A Lt.1, Kompleks Kemendikbud, Jl. Jendral Sudirman, Jakarta, berlangsung dari pukul 09.00 sampai dengan 16.00 WIB. Seminar dibuka oleh Kepala Balitbang Kemendikbud, Totok Suparyitno. Dalam sambutan pembukaan seminar, Kepala Balitbang Kemendikbud yang dikenal ramah tersebut menyampaikan arkeologi memiliki relevansi dengan siswa peserta didik. Arkeologi  memberikan  pembelajaran  untuk  anak didik, situs-situs tempat lokasi temuan-temuan arkeologi dulu merupakan tempat  tumbuhnya bermacam-macam suku bangsa yang beragam. Indonesia sudah beragam sejak dulu. Pada acara yang diselenggarakan dalam rangka hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dan terbentuknya  Association of  South East  Asia Nation (ASEAN) ke-50 tersebut para peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslitarkenas) tampil sebagai nara sumber.

Sesuai dengan tema seminar  “Percepat  Pendidikan yang  Merata dan Berkualitas, Pendidikan Sebagai Penggerak Masyarakat  Ekonomi  Asean”, nara sumber dari Puslitarkenas menyampaikan bahasan  “Aktualisasi  Nilai-Nilai  Peradaban  Masa Lalu  Sebagai modal  Identitas Bangsa dalam Menghadapi Tantangan Global”. Mengawali  pemaparan oleh para nara sumber, Sonny Wibisono, peneliti  senior  Puslitarkenas sebagai pemandu,  menyampaikan bahwa,  temuan-temuan arkeologi memiliki nilai-nilai penting peradaban masa lalu.  Peradaban masa lalu merupakan akar budaya bangsa sebagai modal pemahaman akan kebhinekaan untuk  memperkuat karakter bangsa. Arkeologi  memberikan kontribusi   pada kemajuan ilmu pengetahuan yang  berujung pada pencerdasan bangsa. Hal tersebut  merupakan modal besar dan bekal dalam menghadapi masalah-masalah aktual seperti globalisasi. Selanjutnya  Sonny Wibisono juga mengungkapkan bahwa posisi strategis Indonesia yang terbuka dari segala sisi membuka gelombang migrasi menjadikannya sebagai kawasan persentuhan dan persebaran budaya sejak masa lalu. Kepulauan Nusantara merupakan pusat kehadiran bangsa-bangsa melalui migrasi.

Bagyo Prasetyo nara sumber yang merupakan Profesor Riset bidang arkeologi prasejarah Puslitarkenas memaparkan mengenai migrasi di Indonesia pada masa lampau. Migrasi di Indonesia berlangsung sejak 2,5 juta tahun yang lalu yakni kedatangan migrasi manusia purba Homoerectus (manusia yang berdiri tegak) dari Afrika (out of Africa). Kedatangan migrasi terus berlangsung sampai dengan 2 juta hingga 4.000 tahun yang lalu.  Sekitar 4.000 tahun yang lalu berlangsung migrasi penduduk besar-besaran ke Kepulauan Nusantara, mereka disebut Penutur Austronesia. Mereka menguasai lebih dari setengah belahan bumi yaitu dari Formosa di utara sampai Indonesia di selatan, serta Madgaskar di barat hingga Oseania di bagian timur.  

Selain oleh para peneliti dari Puslitarkenas juga hadir  Veronique  Degroot peneliti asing dari  Ecole Francaise d’Extreme-Orient  sebagai nara sumber. Veronique sudah beberapa tahun melakukan penelitian arkeologi kerja sama denga Puslitarkenas. Dalam kesempatan seminar tersebut  Bagyo Prasetyo dan Veronique  Degroot selanjutnya menjelaskan Penutur Austronesia mulai hidup menetap  membentuk perkampungan, melakukan domestikasi bercocok tanam / pertanian, menciptakan pembuatan tembikar, domestikasi hewan,  mempopulerkan  pelayaran- perdagangan hingga terbentuknya  jalur sutra dan jalur rempah-rempah.  Tradisi Penutur Austronesia  itulah yang berlangsung seperti pada masa sekarang. Migrasi Penutur Austronesia  membawa globalisasi budaya  seperti  pada kesamaan  bahasa di Filipina dan Indonesia (Austronesia). Migrasi dan globalisasi pada masa lalu itulah selanjutnya membentuk keragaman bangsa Indonesia hingga masa sekarang kini.  bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk multi kultural

 

Menjelang  awal Masehi globalisasi perdagangan terus berlanjut  di wilayah Asia Tenggara dan Asia pada umumnya. Antara India-Asia Tenggara-Cina berlangsung interaksi budaya hingga berperan bagi masuknya agama-agama besar. Proses migrasi itulah menurut Bagyo Prasetyo  memberi kontribusi bagi bangsa Indonesia sebagai bangsa yang majemuk.  Sonny Wibisono sependapat dengan Bagyo Prasetyo.

Nara Sumber lainnya ialah I Made Geria, menjelaskan tentang bagaimana mengaktualisasikan hasil-hasil penelitian arkeologi untuk penguatan karakter bangsa. Keberagaman bangsa Indonesia yang tercermin dari warisan budayanya merupakan karunia dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Karakter keragaman bangsa Indonesia dengan akulturasi dan toleransi terbentuk kuat sejak dulu.  Bagaiamana mengaktualisasikannya sebagai bahan ajar. Menurut nara sumber yang juga Kepala Puslitarkenas tersebut strateginya ialah dengan menggagas sebuah inovasi yang disebut Rumah Peradaban. Program Rumah Peradaban merupakan media interaksi dan edukasi, dimaksudkan untuk mewujudkan literasi budaya, menumbuhkan  semangat kebangsaan dan kebhinekaan, meningkatkan kecerdasan  bangsa, serta menjadi sumber inspirasi   bagi pengembangan budaya yang berkepribadian Indonesia. Kegiatan Rumah Peradaban diantaranya: kunjungan lapangan untuk murid-murid sekolah di situs-situs arkeologi. Mereka belajar memaknai  nillai-nilai kehidupan masa lampau, dipandu para peneliti. Kunjungan lapangan ke situs-situs arkeologi merupakan wujud dari destinasi pendidikan. Kegiatan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan toleransi pada siswa. Kegiatan lainnya menurut Kepala Puslitarkenas adalah diversifikasi media, yang dimaksudkan adalah pembuatan media peraga pendidikan (tiruan dari benda-benda arkeologi) yang dibagikan ke sekolah dan menyusun buku pengayaan untuk siswa.  Cara lain untuk mengaktualisasikan hasil-hasil penelitian arkeologi adalah dengan improvisasi, yakni mengaktualisasikan budaya masa lalu untuk desain batik. 

 

Presentasi para peneliti Puslitarkenas mendapat tanggapan dari Mahandis  Yoanata Thamrin. Menurut  jurnalis yang sekaligus editor National Geographic Magazine dan National Geographic Traveler Indonesia tersebut,  arkeologi merupakan topik yang diminati pembaca. Dalam pandangan National Geographic Magazine, Indonesia bagaikan harta karun menyimpan banyak budaya yang belum tersibak. Tentang manusia  masa lalu relevan dengan masa sekarang. Penyajiannya dalam bentuk feature pendekatan dengan bercerita. Bertutur di era visual dengan foto yang bisa bercerita dan ditampilkan dalam media. Sonny Wibisono sebagai pemandu  sidang dalam kesempatan tersebut menghimbau National Geographic Magazine bisa menyampaikan topik arkeologi kepada para pendidik dibuat dengan bahasa yang mudah dipahami pendidik dan anak didik.

Seminar  dihadiri  oleh  210 orang  peserta diantaranya peneliti di lingkungan Balitbang Kemendikbud dan guru  Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Para peserta  antusias dengan  pembahasan mengenai  nilai-nilai  peradaban  masa lalu  dan aktualisasinya yang disampaikan oleh  para nara sumber dari Puslitarkenas. Sejumlah pertanyaan, tanggapan, dan masukan disampaikan oleh  beberapa orang peserta kepada nara sumber .  Tanggapan dari para guru pada umumnya mereka sependapat bahwa masa lampau tidak dapat ditinggalkan, karena adanya bangsa Indonesia  pada masa sekarang karena terbentuk melalui proses panjang yang berlangsung sejak masa lampau. Tanggapan lain dari para pendidik ialah bahwa nilai-nilai luhur dari peradaban masa lalu sudah disampaikan dengan baik kepada anak didik, tantangannya ialah gencarnya informasi dari  media sosial yang lebih disukai oleh anak-anak ketika mereka tidak berada di ruang klas.

Sebagai penutup pemaparan dari Puslitarkenas dan diskusi, pemandu sidang Sonny wibisono menyampaikan bahwa identitas Indonesia adalah keberagaman. Pada masa sekarang pemahaman akan keberagaman bangsa merupakan modal untuk menghadapi tantangan global. (Libra Hari Inagurasi)


comments powered by Disqus

Baca Lainnya


Artikel Arkenas

Publikasi Penelitian
Penelitian Lainnya research

Arkeologi Natuna: Jaringan Pelayaran dan Perdagangan Pulau Terdepan Nusantara

Monday 07 / Atika

Latar Belakang Natuna adalah gugusan Kepulauan Nusantara di Samudra Natuna Utara (Cina Selatan) yang  memiliki posisi penting sebagai kawasan perbatasan NKRI.   Pada saat ini pemerintah sedang membangun dan  memperkuat wilayah…

Baca Selengkapnya...


Kategori Terbitan

Aspek
device it's being served on. Flexible grids then size
1 Tulisan
Amerta
device it's being served on. Flexible grids then size.
20 Tulisan
BPA
device it's being served on. Flexible grids then size.
300 Tulisan
Kalpataru
device it's being served on. Flexible grids then size.
1325 Tulisan
Monografi
device it's being served on. Flexible grids then size.
2000 Tulisan