Berita ARKENAS

Penelitian

Dibaca 154 kali
  • news

    Relief Sri Tanjung di Candi Jabung

  • news

    Relief Sri Tanjung di Candi Surowono

Kisah Romansa dari Jawa Kuno: Pesan Teruntuk Kisah Asmara Generasi Muda Masa Kini (Relief Sri Tanjung)

Friday 14, Feb 2020 04:18 AM / Atika

Salah satu cerita bertema romansa yang pernah ‘eksis’ dari masa Jawa Kuno hingga menjadi legenda di Banyuwangi adalah Relief Cerita Sri Tanjung. Ceritanya mengisahkan tentang kesetiaan, fitnah, amarah, dan penyesalan. Dalam Cerita Sri Tanjung disebutkan hidup sepasang suami-istri bernama Sidapaksa dan Sri Tanjung. Mereka berdua hidup bahagia hingga akhirnya Sidapaksa diperintahkan oleh seorang raja bernama Sulakrama untuk berangkat ke kahyangan. Dengan berat hati, Sri Tanjung merestui kepergian Sidapaksa untuk menunaikan tugasnya.

Ketika Sidapaksa tidak ada di rumah, datanglah Raja Sulakrama ke hadapan Sri Tanjung untuk merayunya, akan tetapi Sri Tanjung tidak bergeming. Raja Sulakrama yang tidak terima karena gagal mendapatkan Sri Tanjung, kemudian memfitnah Sri Tanjung sebagai wanita yang mencoba menggodanya. Tentu saja Sidapaksa marah besar mendengar hal itu. Sidapaksa yang termakan fitnah akhirnya mengakhiri hidup Sri Tanjung. Ketika meregang nyawa, Sri Tanjung  berkata apabila darahnya berbau harum, maka dia tidak bersalah, dan sebaliknya jika darahnya berbau amis maka benar dia bersalah. Dan ternyata darah Sri Tanjung berbau wangi, maka Sidapaksa menyesal sekali.

Sidapaksa menyadari bahwa Sri Tanjung tidak bersalah meminta tolong kepada Ra Nini (Dewi Durga) untuk menghidupkan kembali.  Dewi Durga memberitahukan bahwa Sri Tanjung belum saatnya meninggal dan berada di rumah kakek Sri Tanjung di Prang Alas. Singkat cerita, Sidapaksa kemudian melakukan perjalanan menuju Prang Alas dan berhasil menemui Sri Tanjung.

Pada relief di Candi Surowono, Candi Panataran, Gapura Bajang Ratu dan Candi jabung dipahatkan relief Seorang putri naik ikan. Relief tersebut menggambarkan Arwah Sri Tanjung menuju alam baka dengan menaiki ikan. Sedangkan penyesalan Sidapaksa karena telah membunuh Sri Tanjung dalam relief digambarkan seorang laki-laki duduk termenung di tepi sungai.

Pada akhir cerita di Candi Panataran, dipahatkan relief Sri Tanjung dan Sidapaksa dalam posisi berpelukan. Sidapaksa dalam posisi duduk dan Sri Tanjung duduk diatas pangkuan Sidapaksa. Akhir Cerita, Sri Tanjung dan Sidapaksa hidup bersama dan bahagia. Pesan moral dalam cerita ini adalah gelo, loro, tangis, tatu tibone neng mburi!, rasa percaya, cinta yang setia, dan buanglah semua rasa curiga ~~ selamat berbagi kasih sayang dengan yang terkasih.

 

Penulis: Harriyadi

Editor: Sukawati Susetyo

 

Sumber:

Pratiwi, Prihani. 2016. Makna Visual Relief Cerita Sri Tanjung Candi Panatara. Surakarta: Skripsi Sarjana Program Studi Seni Rupa Murni, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia.

Susetyo, Sukawati. 1997. “Figur Relief Putri Naik Ikan” dan Cerita Sri Tanjung, dalam Cinandi Persembahan Alumni Jurusan Arkeologi UGM kepada Prof. Dr. Soekmono.  Yogyakarta: Panitia Lustrum VII Jurusan Arkeologi Fak Sastra UGM.



Baca Lainnya


Artikel Arkenas

Publikasi Penelitian
Penelitian Lainnya research

Arkeologi Natuna: Jaringan Pelayaran dan Perdagangan Pulau Terdepan Nusantara

Monday 07 / Atika

Latar Belakang Natuna adalah gugusan Kepulauan Nusantara di Samudra Natuna Utara (Cina Selatan) yang  memiliki posisi penting sebagai kawasan perbatasan NKRI.   Pada saat ini pemerintah sedang membangun dan  memperkuat wilayah…

Baca Selengkapnya...


Kategori Terbitan

Aspek
device it's being served on. Flexible grids then size
1 Tulisan
Amerta
device it's being served on. Flexible grids then size.
20 Tulisan
BPA
device it's being served on. Flexible grids then size.
300 Tulisan
Kalpataru
device it's being served on. Flexible grids then size.
1325 Tulisan
Monografi
device it's being served on. Flexible grids then size.
2000 Tulisan