Berita ARKENAS

Seminar

Dibaca 522 kali
  • news

  • news

  • news

  • news

  • news

  • news

  • news

  • news

Catatan dari Diskusi “Raja-Raja Nusantara dalam Pusaran Ketoprak dan Pemahaman Sejarah”

Tuesday 25, Feb 2020 04:26 AM / Atika

Jakarta – Pusat Penelitian Arkeologi Nasional kembali menyelenggarakan diskusi bulanan dengan mengangkat tema “Raja-Raja Nusantara dalam Pusaran Ketoprak dan Pemahaman Sejarah”. Diskusi yang diselenggarakan pada 25 Februari 2020 di Kantor Pusat Penelitian Arkeologi Nasional ini dilakukan dengan tujuan untuk menjawab fenomena yang akhir-akhir ini sedang berkembang di masyarakat yakni munculnya raja-raja baru yang mengklaim memiliki dasar sejarah dan keturunan dari kerajaan-kerajaan pada masa Hindu-Buddha dan masa Islam-Kolonial.

Dua pemantik diskusi yang dihadirkan dalam kegiatan ini adalah adalah Prof. Dr. Agus Aris Munandar (Guru Besar Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia) selaku narasumber dan Drs. Bambang Budi Utomo (Peneliti Senior, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional) selaku moderator. Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai elemen dari masyarakat umum seperti guru, pegiat budaya, dan mahasiswa.

“Sekarang banyak berita bohong mengenai timbulnya kerajaan-kerajaan baru di Indonesia. Kita sebagai badan riset membahas mengenai hal tersebut agar masyarakat tidak tertipu dengan kebohongan yang beredar. Dengan adanya diskusi ini, kita ingin mencoba meluruskan mengenai hal-hal yang tengah berkembang di masyarakat agar hal-hal ini tidak mempengaruhi masyarakat lebih luas”, tutur Dr. I Made Geria, M.Si., kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, yang membuka jalannya diskusi.

Jalannya diskusi dimoderatori oleh Drs. Bambang Budi Utomo yang menuturkan bahwa kemunculan raja bohong seperti ini bukan hal yang baru. Pada 1960an pernah muncul Raja Idrus dan Permaisurinya yang bernama Markonah dijamu oleh Presiden Soekarno yang kemudian akhirnya ditangkap dan di bui. Sampai sekarang masih banyak raja-raja bohong yang bermunculan, Banyak orang yang mengangkat dirinya atau mengaku-ngaku sebagai kuturunan sultan. Hal ini yang akan dijelaskan oleh Prof. Dr. Agus Aris Munandar untuk meluruskan semuanya.

Prof. Dr. Agus Aris Munandar dalam presentasinya yang berjudul “Munculnya Pendakuan Kerajaan-Kerajaan Baru: Fenomena Sejarah Kebudayaan Indonesia” menjelaskan hampir seluruh Kerajaan yang ada di nusantara ini mengalami 3 fase, Tumbuh, Berkembang, Surut dan Runtuh. Runtuhnya kerajaan disebabkan oleh perebutan kekuasaan antar keturunan, pertempuran kerajaan yang terjadi untuk menduduki suatu kerajaan oleh kerajaan lainya, dan masuknya Belanda yang dapat menduduki kerajaan-kerajaan di Nusantara.

Pasca runtuhnya kerajaan, kerjaan-kerajaan tidak memiliki kekuasaan dan bekas wilayahnya sudah diduduki oleh kerajaan baru. Adapula kerajaan yang tetap dipertahankan yang dijadikan simbol budaya namun tidak memiliki kekuasaan politik. Ada kerajaan yang memerintah secara otonom, namun tidak memiliki armada perang. Sebagai contoh, Kasultanan Yogyakarta yang masih memiliki pengaruh politik dan budaya bertahan hingga sekarang dan Kasultanan Cirebon yang hanya mempunyai pengaruh kebudayaan saja.

Sejarah dan dimanika kemunculan kerajaan-kerajaan baru di Nusantara pun dibahas secara mendetail oleh Prof. Dr. Agus Aris Munandar. Beliau menjelaskan bahwa sebuah contoh gerakan dengan nama Nyi Aciah yang pernah muncul di wilayah Sunda pada tahun 1870-1871 yang dahulu sangat ditakuti oleh Belanda. Gerakan ini semakin meluas, namun gerakan itu akhirnya ditangkap dan dibubarkan oleh Belanda.

Sama dengan gerakan di Sunda, di Jawa muncul gerakan-gerakan serupa. Sebagai contoh, Gerakan Jumadilkubra di Pekalongan pada tahun 1870-1871 dan Gerakan mas Jasmani yang meramalkan datangnya kerajaan Sultan adil pada 1887.

Menurut Prof. Dr. Agus Aris, “gerakan tersebut memiliki gejala hampir serupa dengan gejala millenarisme, tapi sebenarnya bukan. Gerakan ini merupakan upaya revivalistic tendensius.  Gerakan millenarisme muncul karena adanya tokoh yang dianggap juru selamat masyarakat, adanya kehidupan masyarakat yang sulit, dan adanya kesadaran masuarat untuk bebas dari kesengsaraan. Gerakan ini ciri, datangnya tokoh menyelamatkan masyarakat, setiap masyarakat memiliki status, kedudukan social dihapus dan semua yang membebankan masyarakat dihilangkan.”

“Upaya revivalistic tendensius lebih nampak dari upaya untuk mengkaitan diri dengan masa silam, menghidupkan kebudayaan yang mulai runtuh, merekonstruksi upacara-upacara yang telah hilang, meneruskan tradisi keraton, mengumpulkan dana masyarakat untuk mendapatkan keuntungan, menjadi calendar of event dalam kegiatan pariwisata”, Jelas Prof. Dr. Agus Aris Munandari.

Dalam Kesimpulan Presentasinya Prof. Dr. Agus Aris Munandar Kerjaan-kerajaan baru yang sekarang muncul mengklain dirinya memiliki keterkaitan dengan masa silam. Sebagai contoh kasus Keraton Agung Sejagat, memiliki pendakuan yang aneh yang menyatukan dua kekuatan Mataram dan Majapahit. Selain itu, banyak kerajaan-kerajaan bohong yang berkembang di Jawa Barat yang mengklaim dirinya sebagai penerus dari kerajaan.

Raja baru-baru ini memahami sejarah keluarganya sendiri, namun menciptakan sejarahnya sendiri. Mereka mengacu pada tokoh ternama dan mengaitkan dirinya dengan kekuasaan masa silam. Data yang telah ditelaah oleh peneliti Arkeologi disalah tafsirkan oleh masyarakat menjadi hal yang berbeda untuk menjadi sumber Raja Baru. Motifnya adalah untuk memperoleh penghargaan, kebanggan, dan agar disegani dan dihormati.

“Banyak berita-berita yang direkayasa oleh manusia saat ini untuk mendapatkan ketenaran dan kekuasaan yang sangat melenceng tanpa bukti yang jelas. Kita perlu bersuara lantang agar hal ini tidak meluas lebih jauh. Raja-raja kaleng yang sekarang muncul ini terinspirasi dari raja bohong lainya, yang didalam fikiran mereka dengan menjadi raja akan mendapatkan kemakmuran dan kejayaan semata yang dapat mempengaruhi masyarakat luas”, tegas Prof. Dr. Agus Aris Munandari dalam akhir paparan.

Kegiatan diskusi bulanan di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional ditutup dengan tanya jawab antara narasumber dengan para peserta.

(Harriyadi)



Baca Lainnya


Artikel Arkenas

Publikasi Penelitian
Penelitian Lainnya research

Mengulik Jejak Budaya Manusia Purba Kobatuwa di Cekungan Soa, Flores Timur

Friday 25 / Atika

LATAR PENELITIAN Penelitian di wilayah Cekungan Soa pertama kali dipelopori oleh , seorang missionaris berkebangsaan Belanda pada sekitar tahun 1960-an. Dalam laporannya ia menginformasikan bahwa di Situs Matamenge, Boa Lesa…

Baca Selengkapnya...


Kategori Terbitan

Aspek
device it's being served on. Flexible grids then size
1 Tulisan
Amerta
device it's being served on. Flexible grids then size.
20 Tulisan
BPA
device it's being served on. Flexible grids then size.
300 Tulisan
Kalpataru
device it's being served on. Flexible grids then size.
1325 Tulisan
Monografi
device it's being served on. Flexible grids then size.
2000 Tulisan