Berita ARKENAS

Seminar

Dibaca 748 kali
  • news

  • news

    Prof. dr. Herawati Supolo-Sudoyo, memaparkan "Aneka Gen, Satu Indonesia" pada seminar bertema Merajut Kebinekaan yang berlangsung di Balai Agung, Balaikota Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta (Sumber Foto: Dian Rahayu Ekowati)

  • news

    Prof (Ris). Dr. Truman Simanjuntak, pada seminar bertema Merajut Kebinekaan yang berlangsung di Balai Agung, Balaikota Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta (Sumber Foto: Dian Rahayu Ekowati)

  • news

  • news

    Dr. Kartini Sjahrir, memaparkan "Tantangan Kebinekaan Masa Kini" pada seminar bertema Merajut Kebinekaan yang berlangsung di Balai Agung, Balaikota Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta (Sumber Foto: Dian Rahayu Ekowati)

SEMINAR MERAJUT KEBINEKAAN: Puslitarkenas Berperan dalam Mengungkap dan Memasyarakatkan Nilai-Nilai Kebinekaan Bangsa Indonesia

Friday 19, May 2017 12:35 PM / Atika

“Kita bangsa Indonesia beragam, berbaur, bertoleransi sudah sejak lama”, hal tersebut disampaikan oleh Truman Simanjuntak, pembicara pada seminar bertema Merajut Kebinekaan. Seminar berlangsung di Balai Agung, Balaikota Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan No.8, Jakarta Pusat, pada Selasa, 16 Mei 2017.

Keragaman bangsa Indonesia menurut Profesor Riset (Prof. Ris.) bidang arkeologi tersebut dibuktikan  melalui temuan-temuan arkeologi. Keragaman bangsa Indonesia telah ada  sejak  ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu, melalui proses migrasi dari berbagi penjuru dunia seperti Afrika dan Asia yang berlangsung sejak 2 juta tahun yang lalu dan terus berlanjut ribuan tahun kemudian. Selanjutnya Prof. Ris. Tersebut menjelaskan bahwa fase awal adalah migrasi manusia purba dari  Afrika dan  kemudian migrasi Penutur Austronesia. Mereka berbeda dari segi fisiknya dan hidup berdampingan menempati wilayah-wilayah di Kepulauan Indonesia. Migrasi ditunjukkan dengan bukti-bukti temuan-temuan arkeologi seperti kubur sejumlah individu dan alat-alat logam  di Gua Harimau di Padang Bindu, Ogan Komering Ulu, Sumatera  Selatan, pada 15.000 tahun yang lalu.  Keragaman bangsa Indonesia selanjutnya terlihat dari kehadiran agama dan budaya Hindu, Budha, dan Islam. Hindu dan Budha dapat berdampingan ketika masa Mataram Kuna  dan masa Majapahit, demikian pula kehadiran Islam di Majapahit dapat berdampingan dengan agama lain yang telah ada sebelumnya seperti tercermin pada makam-makam di Troloyo, Jawa Timur. Selanjutnya Truman Simanjuntak menyampaikan bahwa tinggalan budaya manusia masa lampau memiliki nilai-nilai kebinekaan, dapat digunakan sebagai inspirasi dan bahan pembelajaran bagi bangsa Indonesia mensikapi tantangan yang dihadapi  pada masa sekarang.

Keberagaman yang tercermin pada tinggalan budaya tersebut dibuktikan pula melalui riset-riset genetika. “Genetika pada bangsa Indonesia berragam”,  hal tersebut diungkapkan oleh Herawati Supolo, Profesor bidang genetika dari Lembaga Eijkman, yang juga pembicara pada acara seminar tersebut.

Acara seminar diselenggarakan didorong oleh keprihatinan para arkeolog terhadap konflik di masyarakat akhir-akhir ini terkait pelaksanaan pilkada. Seminar diselenggarakan atas sinergi antara Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Komisariat Daerah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dengan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslitarkenas).  Para arkeolog,  ahli genetika, dan didukung juga oleh ahli antropologi memberikan kontribusinya pada seminar tersebut. Mereka urun rembug dalam memberikan pemahaman kebinekaan, guna memperkokoh kesatuan  bangsa.  Sebagai bangsa yang berragam sudah semestinya antara suku yang dengan lainnya, antara agama yang satu dengan lainnya, sejajar tidak menganggap ada suku atau agama yang paling hebat diantara yang lainnya. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara konflik-konflik yang muncul karena adanya perbedaan suku atau perbedaan keyakina   yang satu dengan lainnya sebaiknya dihindari. (Libra Hari Inagurasi)


comments powered by Disqus

Baca Lainnya


Artikel Arkenas

Publikasi Penelitian
Penelitian Lainnya research

Arkeologi Natuna: Jaringan Pelayaran dan Perdagangan Pulau Terdepan Nusantara

Monday 07 / Atika

Latar Belakang Natuna adalah gugusan Kepulauan Nusantara di Samudra Natuna Utara (Cina Selatan) yang  memiliki posisi penting sebagai kawasan perbatasan NKRI.   Pada saat ini pemerintah sedang membangun dan  memperkuat wilayah…

Baca Selengkapnya...


Kategori Terbitan

Aspek
device it's being served on. Flexible grids then size
1 Tulisan
Amerta
device it's being served on. Flexible grids then size.
20 Tulisan
BPA
device it's being served on. Flexible grids then size.
300 Tulisan
Kalpataru
device it's being served on. Flexible grids then size.
1325 Tulisan
Monografi
device it's being served on. Flexible grids then size.
2000 Tulisan