Penelitian ARKENAS

Islam Kolonial

Dibaca 137 kali
  • research

  • research

Penelitian Karakteristik Budaya Maritim Masa Islam Di Pantai Lamreh, Aceh Besar, Aceh, Tahun 2018

Thursday 02, Aug 2018 01:20 AM / Atika
Ketua Tim : Dra. Libra Hari Inagurasi, M.Hum.,
Year : 2018
Attachment : Lampiran tidak tersedia.

Tim penelitian dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) meneliti situs-situs arkeologi pantai di Lamreh, berlangsung dari 8 sampai dengan 23 Juli 2018. Lokasi penelitian termasuk wilayah Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Tim penelitian di koordinir oleh Libra Hari Inagurasi, anggota terdiri dari arkeolog, keramolog, geolog, epigraf Islam, kimiawan,dan  fotografer.

Pantai Lamreh merupakan  perairan di ujung utara Pulau Sumatra, berada pada pertemuan antara Selat Malaka dan Samudra Hindia. Karakteristik lingkungan situs berupa pantai sempit pada teluk yang diapit, dikelilingi oleh semenanjung (tanjung) di bagian barat dan timur. Semenanjung merupakan bukit batu gamping yang curam atau terjal. Pada pantai dan bukit itulah banyak tinggalan-tinggalan budaya bercorak atau berlapis-lapis pra Islam, Islam, dan kolonial. Bukit Lamreh pada masa sekarang tidak digunakan untuk pemukiman dan jauh dari pemuikman. Sebelah barat dari bukit Lamreh terdapat pelabuhan bongkar-muat barang terbesar di Aceh yakni pelabuhan malahayati.  

Penelitian arkeologi di pantai dan bukit Lamreh telah menemukan sejumlah tinggalan arkeologi terdiri dari (1) puluhan batu nisan baik dalam kondisi utuh, tidak utuh, insitu, dan lepas. Nisan-nisan pada umumnya dibuat dari batuapasir kasar dan halus. (2) Struktur pada lereng-lereng bukit dibuat dari batu gamping. Diduga struktur dibuat untuk memperkuat bukit. (3) pecahan keramik dan tembikar. (4) alat-alat batu dibuat batu andesit berupa batu gilingan (pipisan) baik utuh maupun pecahan (3) Benteng Kuta Lubok. (4) Gua-gua pengintaian (pilbox) Jepang. (5) Tanaman langka misalnya pohon kemiri dan pohon cendana.

Nisan-nisan kuna di bukit Lamreh yang telah diidentifikasi diketahui memiliki tipe persegi panjang balok menyerupai tugu dengan puncak nisan menyerupai bentuk piramida dan empat persegi panjang pipih. Nisan-nisan memiliki ragam hias motif sulur-suluran yang dibentuk sedemikian rupa memiliki kemiripan dengan wajah manusia yang disamarkan, motif kelopak bunga teratai (padma), dan inskripsi aksara Arab. Salah satu nisan yang berinskripsi Arab diketahui berangka tahun 834 H  atau 1431 M,  abad ke-15  M. Inskripsi nisan  di pantai Lamreh memuat nama  Sultan Muhammad Sulayman. Pecahan-pecahan keramik diketahu tertua dari abad ke 12—13  dan yang termuda abad ke-19. Keramik yang paling banyak jumlahnya adalah keramik dari abad ke 13—14.  Keramik merupakan barang perdagangan (komoditas) asing yang berasal dari luar seperti Cina dan Thailand, bukti adanya aktivitas perdagangan yang ditukar dengan komoditas dari Lamreh kemiri dan cendana. Buah kemiri digunakan sebagai bahan bumbu masakan seperti halnya rempah-rempah lainnya (spice) dan kayu cendana  sebagai bahan wewangian.  

Benteng Kuta Lubok di pantai Lamreh memiliki ciri-ciri benteng Eropa Portugis ditandai dengan adanya bastion-bastion. Adapun Gua-gua pengintaian Jepang  bentuk kotak berbahan beton cor, bentuk kotak yang dibangun oleh Jepang ketika perang Pasifik. Keberadaan tinggalan – tinggalan budaya di pantai dan bukit Lamreh mencerminkan begitu pentingnya pantai Lamreh dalam pelayaran, perdagangan global di Asia, sejak masa pra Islam, Islam, dan kolonial.  

Lamreh merupakan bahasa Aceh yang berasal dari kata “Lambry”, “Lamri”, “Lamuri”, “Ramni”, “Rami. Nama-nama tersebut, menurut catatan-catatan Arab, Cina dan Eropa, yang dimaksudkan adalah nama tempat di ujung utara Sumatra, yang sudah didatangi oleh orang-orang Arab sejak abad ke-9. Bermula dari nama “Lambry”, “Lamri”, “Lamuri”, “Ramni”, “Rami” kemudian menjadi “Lamreh”. Keberadaan Lamuri atau Lamreh yang lokasinya di ujung utara Sumatra diperkuat dengan bukti prasasati. Prasasti Tanjore berbahasa Tamil abad ke-11, dibuat atas perintah oleh Raja Rajendra I atau Raja Coladewa dari Kerajaan Cola di India Selatan.menyebut nama “Lamuridessam” di ujung utara Sumatra (Sakuja and Sangeta Sakhuja, 2009:87; Coedes, 2015:199-200). Prasasti tersebut menceritakan tentang penaklukkan “Lamuridessam” oleh Kerajaan Cola dari India di bagian selatan. Nama Lamuridessam yang dimaksudkan adalah “Lamuri” atau “Lamreh”. Isi prasati tersebut paling tidak memberikan informasi mengegnai adanya interaksi antara India dengan ujung utara Sumatra yang membawa pula anasir-anasir Hindu-Buddha di Lamreh.

Posisi pantai Lamreh strategis berada pada jalur pelayaran perdagangan internasional antar bangsa, baik dari Asia bagian barat (Arab, Persia, India), Asia bagian timur (Cina), dan Asia Tenggara (Thailand, Nusantara). Faktor lingkungan yang berada di tepi pantai di pertemuan Selat Malaka dan Samudra Hindia, berpengaruh terhadap corak yang berlapis-lapis pada tinggalan budaya di pantai Lamreh. Pantai Lamreh merupakan daerah yang terbuka, daerah yang ramai dilalui oleh pelayaran dan perdagangan, tempat yang dipilih untuk merapatnya kapal, tempat bermukim, berlangsungnya aktivitas perdagangan, tempat kehadiran orang-orang Arab, dan tempat berlangsungnya kontak budaya. Kemaritiman baik aktivitas pelayaran perdagangan maupun lingkungan pantai merupakan faktor yang berpengaruh terhadap corak budaya di pantai Lamreh dan sekitarnya.  Mengingat nisan-nisan kuna di pantai dan  bukit Lamreh memiliki nilai penting untuk sejarah kebudayaan Islam di Nusantara, maka perlu dilakukan pelestarian berupa pembuatan tiruan atau casting nisan-nisan yang berinskripsi memuat angka tahun dan nama individu yang dikuburkan serta nisan yag berragam hias motif pra Islam, penyimpanan nisan-nisan yang tidak insitu ke museum atau Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh.


comments powered by Disqus

Baca Lainnya


Berita Arkenas

Publikasi Penelitian

Kategori Penelitian

Prasejarah
device it's being served on. Flexible grids then size
1 Tulisan
Klasik
device it's being served on. Flexible grids then size.
20 Tulisan
Islam Kolonial
device it's being served on. Flexible grids then size.
300 Tulisan
Publik
device it's being served on. Flexible grids then size.
1325 Tulisan