Penelitian ARKENAS

Islam Kolonial

Dibaca 471 kali
  • research

  • research

  • research

  • research

  • research

Pola Perdagangan dan Jaringan Pelayaran di Maluku Tengah Abad XV-XVII dari Hitu ke Ambon

Wednesday 18, Apr 2018 07:35 AM / Atika
Ketua Tim : Bambang Budi Utomo,
Year : 2017
Attachment : Lampiran tidak tersedia.

Penelitian Arkeologi Maritim Tahun 2017:

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, terbentang dari Sabang di barat hingga  Marauke  di  timur,  dari  Miangas  di  utara  hingga  Rote  di  selatan. Penyebutan Indonesia sebagai negara bahari telah  melekat  sejak ratusan tahun yang lalu. Menurut Lapian (1992) pakar martim Indonesia, “Indonesia tidak hanya identik negara kepulauan yang begitu luas, tetapi sepantasnya  disebut negara bahari karena memiliki sejarah dan peradaban maritim yang amat panjang.

Pada Bulan September 2017, Pusat Arkeologi Nasional, Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan, melakukan penelitian dengan tema Kemaritiman di Pulau Ambon, tepatnya di wilayah Hitu. Fokus dari penelitian ini adalah masalah perdagangan rempah pada abad 15-17 Masehi. Penelitian ini dipimpin oleh Bambang Budi Utomo dan dibantu oleh peneliti dari Pusat  dan  Balai Arkeologi  Maluku, serta dibantu oleh masyarakat setempat.

Rempah yang terdiri dari cengkeh, pala, bunga pala, dan kayu manis merupakan barang komoditi penting dan banyak penggemarnya. Berdasarkan sumber tertulis yang sampai kepada kita, komoditi ini diketahui telah menyebar jauh dari sumbernya yang kala itu hanya ada di sebelah timur Nusantara, tepatnya di Kepulauan Maluku. Sumber-sumber tertulis itu antara lain kitab Injil Perjanjian Lama atau dikenal juga dengan nama Taurat (alkitab 1999), sumber para penulis dari Yunani (Wheatley 1961), dan catatan para pengelana atau saudagar yang berniaga ke Maluku.

Kekayaan alam nusantara tergambarkan dalam kalimat ini;

“Saudagar-saudagar Melayu mengatakan bahwa Tuhan menciptakan Timor untuk kayu cendana dan Banda untuk fuli (dan pala) dan Maluku (utara) untuk cengkeh, dan barang-barang dagangan ini tidak tumbuh di tempat lain di dunia kecuali di tempat itu.”

Melalui komoditi cengkeh dan pala, dapat ditelusuri jalur-jalur pelayaran dan perdagangan sampai seberapa jauh hubungan Maluku dengan dunia luar. Sebuah sumber tertulis Romawi dari Plinius Major (tahun 75 Masehi) menyebutkan garyophyllon (nama tumbuhan yang hanya dapat tumbuh di hutan sakti India). Sumber-sumber tertulis tentang hasil dari Maluku, mengindikasikan bahwa bukan pembeli yang datang ke Maluku, melainkan orang-orang dari Maluku (Nusantara) yang datang. Kalau pembeli yang datang, biasanya diceriterakan juga tempat yang didatangi itu. Sebuah deskripsi “menyesatkan” yang ditulis oleh penulis Arab terkenal Ibnu Battuta (1350 Masehi) (Dunn 2011) menyatakan: “cengkeh yang diperdagangkan adalah  batang pohonnya, buahnya disebut pala, dan bunganya dinamakan fuli. Ini berarti, Ibnu Battuta tidak tahu bagaimana bentuk pohon cengkeh dan bagaimana bentuk pohon pala.

Sampai seberapa jauh para pelaut Nusantara ini mengarungi laut. Apakah mereka hanya melayari laut/selat yang memisahkan antar pulau, atau lebih jauh lagi sampai ke Asia Selatan, Tiongkok, Asia Timur, bahkan sampai ke Eropa? Sebuah gambar cat air yang dibuat oleh Alphonse Pellion yang berjudul “Kora-kora from Gebe, North Moluccas, 1818” menggambarkan sebuah perahu besar dengan 9-10 pendayung dan sebuah layar besar (Reid 2002: 86-87).

Pada abad ke-15 Maluku merupakan pusat perdagangan cengkeh di bagian timur Nusantara, khususnya di Maluku Utara sebelah barat Pulau Halmahera. Beberapa kerajaan lain yang juga merupakan pusat perdagangan cengkeh adalah Tidore, Bacan, dan Jailolo di Halmahera. Perdagangan cengkeh pada masa itu (sekitar abad ke-15) berbarengan dengan penyebaran agama Islam yang dibawa oleh para saudagar dan mubaligh. Pada saat itu cengkeh merupakan komoditi perdagangan yang banyak dicari oleh para saudagar dari berbagai daerah dan bangsa. Untuk menghindari persaingan perdagangan, para raja dan penguasa di Maluku membangun prinsip kekeluargaan.

 

Perdagangan renpah di Ternate mengalami pasang surut akibat persaingan Portugis dan Spanyol dan kemudian dimonopoli oleh pihak VOC (Belanda). Situasi ini menyebabkan munculnya konflik dan menimbulkan kemarahan oleh Sultan Baabullah lalu mengusir Portugis dari bumi Ternate, sehinggga pada kurun waktu  tahun 1577 perdagangan cengkeh Ternate maju pesat, dan megalami masa kejayaan hingga mangkatnya Sultan Baabullah pada tahun 1583.

Tinggalan Arkeologi

Dari catatan sejarah dan data arkeologi yang berhasil dikumpulkan, maka diperoleh rekam jejak Kerajaan Hitu di jazirah ini sebagai salah satu pusat perdagangan rempah di kawasan Maluku hingga perkembangan budaya setelah masuknya Islam. Jejak sejarah tersebut masih terlihat dalam bentuk Masjid Tua Wapaue di Negeri Kaitetu, (runtuhan) Gereja Imanuel  dan Benteng Amsterdam di Negeri Hila yang letaknya berdekatan satu sama lain. Termasuk jejak pelabuhan-pelabuhan kuno masa colonial.

Bukti lainnya berupa artefak keramik dan mata uang, tersingkap dan tersebar di permukaan tanah dari hasil survei di situs-situs pemukiman tua. Temuan-temuan tersebut memiliki korelasi kuat dengan data tekstual yang menggambarkan aktivitas perdagangan, maupun  interaksi budaya yang terjadi pada masa lalu di Kawasan Jazirah Leihitu, hingga Ambon.

Dari bukti-bukti di atas menjelaskan bahwa jalur perdagangan yang pernah berlangsung pada masa lalu di wilayah timur Kepulauan Indonesia lebih terkonsentrasi  di wilayah Ternate dan Tidore (Maluku). Komoditi tersebut kemudian terdistribusi ke wilayah lainnya seperti Somba Opu, Patani, Johor, Banjar, dan Blambangan. komoditas cengkih yang datang dari Huamual (Seram Barat), sedangkan komoditias pala berpusat di Banda. Semua pelabuhan tersebut berhubungan dan umumnya didatangi oleh para pedagang Jawa, Cina, Arab, dan Makassar.

Pola pelayaran masa lalu setidaknya masih terlihat hingga sekarang di wilayah Hitu. Salah satu bukti yang tim temukan di Pulau Seram Barat, Desa Waiputih hingga sekarang masyarakat di sana masih mengirimkan hasil cengkehnya ke Pelabuhan Hitu untuk didistribusikan ke kawasan lainnya. meskipun nilai ekonomi dari komoditas pala dan cengkeh sudah turun drastis.

Pelabuhan di Hitu masih menjadi tempat distribusi dari komoditas cengkih dan pala yang mereka dapatkan dari para petani yang masih mempertahankan tradisi menanam pala dan cengkeh. Sayangnya pelabuhan Husekaa Hitu dalam kondisi tidak lagi terawat, berbagai fasilitas dan infrastruktur tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Harusnya pemerintah dan pemda setempat bersama masyarakat membangun kembali dengan langkah dan upaya perbaikan sarana menjadi lebih baik di masa datang.

(NAS, 4/18).


comments powered by Disqus

Baca Lainnya


Berita Arkenas

Publikasi Penelitian

Kategori Penelitian

Prasejarah
device it's being served on. Flexible grids then size
1 Tulisan
Klasik
device it's being served on. Flexible grids then size.
20 Tulisan
Islam Kolonial
device it's being served on. Flexible grids then size.
300 Tulisan
Publik
device it's being served on. Flexible grids then size.
1325 Tulisan