Penelitian ARKENAS

Klasik

Dibaca 391 kali
  • research

    Unsur bangunan candi berupa kemuncak dan antefiks

  • research

    Arca Nandiswara

  • research

    Bagian pelipit berbentuk halfround (kiri) dan ujung pipi tangga (kanan)

  • research

    Dua batu candi di halaman rumah penduduk Dusun Putat

  • research

    Empat kemuncak candi dari Dusun Ngrancah

  • research

    Kondisi sentra pembuatan bata Dusun Nglempong, Desa Tirto

  • research

    Lingga semu dan Kemuncak berbentuk Ratna

  • research

    Panah di atas adalah candi Gunung Wukir, Panah yang di sebelah kanan: Lokasi Desa Tirto

  • research

    Pemandangan alam Desa Tirto

  • research

    Salah satu rumah penduduk dengan tangga menggunakan batu-batu candi

  • research

    Unsur bangunan candi berupa kemuncak dan antefiks

Tebaran Tinggalan Megalitik dan Batu-Batu Candi Bertebaran Saat Merapi Meletus

Tuesday 30, Apr 2019 11:10 AM / Atika
Ketua Tim : Dra. Sukawati Susetyo, M.Hum.,
Year :
Attachment : Lampiran tidak tersedia.

Desa Tirto, adalah salah satu desa di Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang. Lokasi desa berada di kaki Gunung Merapi dengan batas-batas desa : Desa Somakreto di sebelah timur; Desa Jamuskauman di sebelah selatan; Desa Baturono di sebelah barat; dan sebelah Barat Laut adalah Desa Tersan Gede. Desa Tirto meliputi 6 dusun, yaitu Dusun Ngentak, Nglempong, Tegal, Tirto, Piton, Grogolan, dan Putat. Lingkungan desa yang terletak di kaki Gunung Merapi secara umum merupakan daerah persawahan yang subur. Topografi daerah ini berupa dataran dan perbukitan. Sungai yang mengalir di Desa Tirto namanya sesuai dengan dusun-dusun yang dilaluinya, yaitu sungai Nglempong,  sungai Ngentak, dan sungai Ngrancah.                                  

 

Tebaran tinggalan arkeologi

Di Dusun Nglempong banyak sawah disewakan untuk produksi bata. Salah satunya adalah tanah milik keluarga Bambang yang digarap oleh 13 keluarga. Tinggalan-tinggalan dari zaman Megalitik tersebar di persawahan tempat produksi bata tersebut, berupa lumpang dan lesung batu, batu kenong serta palungan batu. Selain di Nglempong, temuan batu Megalitik juga ditemukan di Dusun Ngrancah. 

   Lesung batu adalah alat untuk menumbuk padi yang masih mempunyai tangkai hingga menjadi gabah, sedangkan lumpang batu untuk menumbuk gabah menjadi beras, atau untuk menumbuk biji-bijian lainnya. Lesung dan lumpang digunakan untuk menumbuk padi masih dilakukan hingga tahun 1970-an dan berangsur tidak digunakan lagi saat sudah dikenal mesin giling padi. Namun lesung dan lumpang yang terbuat dari kayu masih digunakan. Kalaupun ada lumpang batu yang masih digunakan, biasanya berbentuk persegi empat dan batunya sudah diperhalus. Lesung-lesung batu juga ditemukan di pekarangan-pekarangan rumah di dusun Putat, di sebelah timur bukit Puguhan, semuanya masih berada di Desa Tirto. Dua buah batu kenong ditemukan di Dusun Ngrancah.

Di samping ditemukan di persawahan Dusun Nglempong, beberapa tinggalan arkeologis juga ditemukan di Dusun Tirto tepatnya di pekarangan di belakang Balai Desa Tirto. Pada tahun 2010 tinggalan disimpan di Kantor Balai Desa Tirto, namun dua tahun kemudian tinggalan-tinggalan itu sudah teronggok di halaman karena renovasi gedung Balai Desa. Untungnya benda-benda tersebut sudah didata, berupa dua kemuncak candi berbentuk ratna, yang pada sisi-sisinya berhias tumpal. Bagian bawahnya berprofil, sedangkan bagian tengah berupa panil kosong. Di samping itu juga terdapat lingga semu. Lingga semu yang terdiri dari dua bagian yaitu bagian bawah berbentuk persegi empat, pahatannya kasar dan bagian atas berbentuk silinder.

Temuan penting lainnya adalah arca Nandiswara yang ditemukan pada saat membuat jembatan di Dusun Grogolan. di sungai yang terletak di jalan masuk menuju Dusun Grogolan, Desa Tirto pada koordinat E.110?17’.23 6” S.07?.38’18.5”

Arca Nandiswara dalam posisi berdiri pada lapik polos yang bagian kirinya terpotong seperti masuk ke bangunan. Kedua sisi sandaran sejajar, bagian puncaknya berbentuk angkolade. Keadaan arca sudah aus, kepala hilang dan ditambal dengan semen. Tokoh digambarkan berdiri dengan posisi dwibhangga, bertangan dua, tangan kiri di pinggul dan tangan kanan bertumpu di atas gada. Perhiasan yang dikenakan berupa kalung, gelang lengan, gelang polos, upavita. Pakaiannya berupa kain tipis, mungkin polos (melingkar di betis, ujungnya di kanan  kiri badan). Bagian “gada” tampaknya juga pernah diubah/diperbaiki oleh si penemu. Warna batu hitam berbelang putih karena tambalan semen.

Jika uraian di atas  berada di Desa Tirto, kita menuju ke Dusun Putat yang merupakan bagian dari Desa Tirto.   Dusun Putat terdiri dari dua dusun, yaitu Dusun Putat dan Dusun Ngrancah, akan tetapi kedua dusun ini hanya dikepalai oleh satu orang  Kepala Dusun dari Dusun Putat. Oleh karena itu kedua dusun ini lebih dikenal dengan nama Dusun Putat.

Dusun Putat dan Dusun Ngrancah terletak di sebelah barat kaki Gunung Wukir tempat Candi Gunung Wukir berada. Di rumah Bapak Sukisharjono (yang sudah tidak ditempati lagi), tangga menuju pintu  rumahnya menggunakan batu-batu candi. Di samping itu terdapat juga batu berpelipit yang dipergunakan sebagai tangga masuk di batur rumah penduduk.

 

Unsur Bangunan Candi

Beberapa unsur bangunan candi ditemukan sekitar rumah penduduk, yaitu:

  1. Dua batu candi di halaman rumah penduduk Dusun Putat
  2. Unsur bangunan candi berupa kemuncak dan antefiks

            Batu-batu candi tersebut tampak mempunyai takuk. Takuk adalah suatu bentuk khusus potongan batu yang dipahat sedemikian rupa supaya dapat bertaut dengan batu-batu lainnya (Dumarcay 2007: 93). Sedangkan batu-batu candi yang bersifat dekoratif berupa mercu yang bagian atasnya sudah hilang dan bentuk antefiks. Adapun tinggalan budaya dari Ngrancah yang sekarang disimpan di Balai Desa Tirto, adalah empat buah kemuncak candi, sebuah kemuncak ukurannya lebih besar dari tiga kemuncak candi lainnya.

Bentuk ketiga kemuncak tersebut sama dengan yang ditemukan di Dusun Tirto, Sedangkan satu kemuncak lainnya merupakan bagian puncak berbentuk segi empat berpelipit dan mengecil di bagian atas.

Temuan lainnya berupa pelipit bagian bawah candi berbentuk setengah lingkaran  (half round); bagian ujung pipi tangga candi berbentuk segi tiga yang diakhiri bentuk ukel; dan dua buah batu panel.

 

Dari manakah asal batu-batu itu?

Batu-batu dari zaman Megalitik ditemukan di persawahan Desa Tirto. Sangat beralasan apabila jumlah lesung dan lumpang cukup banyak karena  sebagai alat rumah tangga pada penduduk agraris, alat tersebut sangat diperlukan. Namun adanya batu palungan yang berada di Candi Gunung Wukir tidak diketahui secara pasti apakah memang berada di tempat tersebut pada saat candi tersebut difungsikan, ataukah dipindahkan dari tempat aslinya, dan dimanfaatkan kembali oleh penduduk saat candi berfungsi. Batu palungan dengan bentuk seperti bak mandi dapat difungsikkan untuk penampung air, untuk bersuci sebelum beribadah di candi.

Batu-batu candi yang ditemukan banyak berasal dari Ngrancah yang termasuk ke wilayah Dusun Putat. Jenis temuannyapun sangat bervariasi, mulai dari batu-batu candi polos,  batu candi berpelipit, kemuncak candi, dan pipi tangga. Batu-batu candi yang polos, juga pipi tangga yang masih sangat sederhana secara relatif dapat dimasukkan ke dalam golongan candi-candi tua zaman Mataram Kuno dari abad ke-8-10 M.

Beberapa batu candi yang ditemukan di Ngrancah dan Nglempong mempunyai kesamaan dengan yang terdapat di Candi Gunung Wukir, seperti ujung pipi tangga yang berakhir dengan bentuk ukel, batu monolit dengan lubang-lubang menyerupai lumpang, palungan batu, dan beberapa kemuncak candi. “Pasangan” ujung pipi tangga berbentuk ukel tersebut ditemukan di Candi Gunung Wukir. Jika melihat lokasi Ngrancah yang terletak di sisi barat gunung Wukir di mana Candi Gunung Wukir berada, maka diduga kuat batu-batu tersebut merupakan runtuhan dari Candi Gunung Wukir yang menggelinding melalui lereng barat Gunung Wukir yang cukup curam, dan jatuh di Ngrancah. Batu-batu tersebut berjatuhan pada saat terjadi gempa bumi saat erupsi Gunung Merapi. Gunung Merapi merupakan gunung api paling aktif di dunia dengan periode letusan 5-7 tahun. Pada tahun 1006 terjadi banjir lahar Merapi dengan aliran lahar mengarah ke selatan (Tim Fakultas Geografi UGM, 2003: 26). Jika dilihat dari keletakannya, Desa Tirto berada di sebelah selatan Gunung Merapi.

 

Dumarçay, Jacques. 2007. Candi Sewu dan Bangunan Agama Buddha di Jawa Tengah. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).

Tim Fakultas Geografi UGM, 2002. Pengenalan Bentang Lahan Parangtritis - Bali, Yogyakarta: Badan Penerbit Fakultas Geografi UGM.

Titi Surti Nastiti, dkk 2007. Mataram Kuna Sebagai Pusat Peradaban: Suatu Kajian Pemukiman. Laporan Penelitian Arkeologi. Jakarta: Puslitbang Arkeologi Nasional.



Baca Lainnya


Berita Arkenas

Publikasi Penelitian

Kategori Penelitian

Prasejarah
Hasil penelitian mengenai kehidupan sebelum masa sejarah nusantara
Klasik
Hasil penelitian mengenai peradaban hindu-budha nusantara
Islam Kolonial
Hasil penelitian tinggalan arkeologi islam dan masa pemerintahan kolonial nusantara
Publik
Hasil kajian manajemen sumber daya arkeologi dan pemanfaataanya kepada masyarakat