Artikel ARKENAS

Arkeologi Klasik Hindu Buddha

Dibaca 1454 kali
  • article

  • article

  • article

Kebinekaan dalam Prasasti Lucem (Poh Sarang)

Friday 15, May 2020 03:50 AM / AW

“Pada tahun Saka 934 (1012 Masehi) ketika itu sebuah jalan dibenahi oleh

Samgat (hakim) dari Lucem (bernama) Pu Ghêk

sembilan (titik) ditandai dengan melakukan penanaman

 (pohon) Boddhi (dan) Beringin”

Kalimat di atas merupakan isi Prasasti Lucem (Poh Sarang), sebuah prasasti yang dipahatkan pada sebongkah batu kali dalam aksara Jawa Kuno gaya kuadrat dan ditemukan di Desa Titik, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri.

Penanaman pohon tersebut merupakan upaya pelestarian lingkungan alam sekaligus untuk mendukung aktivitas keagamaan di daerah tersebut. Karena pada masa Jawa Kuno, sebuah tempat suci keagamaan yang disebut mandala atau kadewaguruan berada di lereng bukit, tepi sungai, dan tengah hutan. Pohon Boddhi dipilih karena merupakan pohon sakral dalam ajaran Buddha. Hal ini berkaitan dengan kehidupan Sang Buddha saat bertapa hingga menerima pencerahan di bawah pohon Boddhi. Sedangkan pohon beringin dikaitkan dengan Kalpataru, pohon kehidupan.

Kalpataru adalah nama sejenis “pohon kahyangan” yang dikenal sejak tahun 3000 Sebelum Masehi di Mesir, Mesopotamia, Iran dan sekitarnya. Kalpataru berasal dari kata “Kalpa-vrksa dan Kalpa-druma”. Taru, druma dan vrksa berarti pohon. Arti kata kalpataru adalah pohon masa dunia yang lamanya 4.320.000 tahun. Masa hidup yang panjang menjadikan Kalpataru sebagai lambang keabadian. Selain itu juga disebut wishing three, karena pohon itu dianggap dapat memberikan berkah dan kemakmuran kepada manusia.

Pemujaan terhadap pohon merupakan tradisi yang sudah berlangsung sejak zaman pra Buddhis. Di India pohon beringin (Ficus religiosa) telah dipuja sejak zaman purba karena dianggap mengandung kekuatan magis, daya pengobatan, dan pemberi hidup. Pohon ini juga dipuja pada zaman Hindu, Buddha dan Jaina, karena diyakini merupakan tempat tinggal para dewa, seperti  dewa maut (Yama) bersama roh-roh yang sudah meninggal. Karena terlalu dianggap suci maka tidak boleh berada di dekat rumah dan pada waktu upacara tidak boleh disebut namanya. Di dalam agama Hindu semua dewa yang penting mempunyai pohon-pohon tertentu. Ada lima pohon kayangan yang terkenal yaitu haricandana-vrksa, kalpa-vrksa, mandana-vrksa, parijata-vrksa dan santanu-vrksa.

Kebinekaan tidak saja tercermin pada bangunan suci, naskah kesusastraan, dan lainnya, akan tetapi juga dapat dijumpai dalam bentuk penanaman pohon sakral masing-masing ajaran. Penanaman pohon Boddhi dan Beringin dalam Prasasti Lucem dapat dikatakan merupakan simbol kebinekaan dari ajaran-ajaran yang ada pada masa itu.

Penulis: Sukawati Susetyo, Aang Pambudi Nugroho



Baca Lainnya


Berita Arkenas

Publikasi Penelitian
Penelitian Lainnya research

Pola Perdagangan dan Jaringan Pelayaran di Maluku Tengah Abad XV-XVII dari Hitu ke Ambon

Wednesday 18 / AW

Penelitian Arkeologi Maritim Tahun 2017: Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, terbentang dari Sabang di barat hingga  Marauke  di  timur,  dari  Miangas  di  utara  hingga  Rote  di  selatan. Penyebutan…

Baca Selengkapnya...


Kategori Terbitan

Aspek
device it's being served on. Flexible grids then size
1 Tulisan
Amerta
device it's being served on. Flexible grids then size.
20 Tulisan
BPA
device it's being served on. Flexible grids then size.
300 Tulisan
Kalpataru
device it's being served on. Flexible grids then size.
1325 Tulisan
Monografi
device it's being served on. Flexible grids then size.
2000 Tulisan